Pacarku Bukan Cinta Pertamaku


“Eh..turun dong!”

“Nggak ah! Enakan di sini!”

“Jangan curang gitu dong!” ucap Rara jengkel

“Ha..ha..ha! Awww……Sakit tau! Ntar gue jatuh!” kerikil kecil menembakinya dari bawah.

”Biarin! Kamu sih curang!”

”Curang apanya?”

”Udah cepet turun! Aku dah ngiler nih!”

”Ya..ya..nih aku mau turun! Ra tangakap buahnya!!”

”Ra siapa?” serentak kami bertanya.

”Maksudku Dara”

”Tumben manggil aku Dara?”

”Ehmmmm pengen aja!”

Satu persatu buah dijatuhkan dari ketinggian 3 meter. Tinggal satu buah lagi. Tapi ada yang janggal.

”Masih ijo kok kamu ambil sih?” tanyaku

”Udah tangkap aja! Cerewet!”

Plug….

”Awww……Ihhhhh rese’ banget! Awas lo!” ucapku sembari mengusap kasar dahi mulus ku.

Ternyata itu salah satu rencananya. Buah yang masih hijau itu bukan untuk dimakan tapi untuk membuat dahiku benjol.

Aku masih berumur 9 tahun. Kini aku mulai mengenal apa itu persahabatan. Setiap hari aku, Dodi, Zahra, dan Rara berkumpul di halaman belakang rumah ku. Nama kami berahkir dengan ”Ra”. Jadi jika da yang memanggil salah satu dari kami dengan sebutan Ra, kami selalu menjawab ”Siapa?” tapi Dodi selalu memanggilku Toto. Entah mengapa dia memanggil aku seperti itu.

Lagi

Berkah Ramadhan


Suasana di kota Malang saat itu agak ramai. Jarum jam sudah berada pada angka 16:30, tapi Lila masih sibuk dengan pekerjaannya membersihkan rumah.

Remaja seumurannya terlihat sudah bersiap-siap untuk keluar dengan pasangannya masing-masing.Teman-temannya selalu mengajaknya ikut keluar tapi  selalu saja mereka gagal. Ia tak peduli dengan hiruk-pikuk yang terjadi. Dalam genknya, hanya dialah yang tidak mempunyai pasangan.

Entah mengapa tak terbesit sedikitpun dalam pikirannya untuk memiliki pasangan. Teman-temannya selalu memberi wejangan agar ia mau membuka hati. Berbagai cara ditempuh oleh Dina, salah satu temannya yang paling cerewet. Sayang, usaha sebesar apapun yang Dina lakukan tak ada yang berhasil.
Di bulan ramadhan ini mereka menyusun rencana untuk Lila.

Lagi

%d blogger menyukai ini: