Tolak Pengeboran Karena Janji-Janji Palsu Pihak Lapindo


1

Kondisi sumur pengeboran PT. Lapindo Brantas, INC di Dusun Kaliwungu Desa Banjar Asri Kecamatan Tanggulangin

IMG_7453

Kondisi sumur pengeboran PT. Lapindo Brantas, INC di Dusun Kaliwungu Desa Banjar Asri Kecamatan Tanggulangin

Begitulah kondisi pengeboran yang telah dilakukan oleh Lapindo Brantas, INC. yang ada di Dusun Kaliwungu Desa Banjar Asri  Kecamatan Tanggulangin. Menurut penuturan warga disekitar lokasi pengeboran, sumur produksi TG 1 ini telah beroperasi lebih dari 10 tahun.  Berbeda dengan Pak Satpam yang mengatakan sumur tersebut non aktif.

“Rencananya Lapindo akan mengaktifkan kembali sumur yang sudah tidak beroperasi selama 10 tahun ini. Jadi sumur yang lama akan diaktifkan kembali,” tutur Pak Satpam yang tidak saya ketahui namanya.

Hal itu dibantah oleh Abdul Aziz (70), warga Dusun Kaliwungu. Ia mengatakan sumur  tersebut masih beroperasi.

“Nggak mungkin sumur tersebut tidak beroperasi. Setiap hari kami masih mendengar  suara mesinnya. Yang benar itu Lapindo mau ngebor lagi disampingnya. Jadi rencananya disitu akan ada dua sumur,” ungkapnya.

Wajar jika Pak Satpam tidak jujur pada saya. Saat memasuki lokasi, saya langsung ditanya apakah saya wartawan, ada perlu apa dan dari mana. Mungkin karena kamera dan tas yang kupakai membuatnya curiga.

Segera kujawab,

“Bukan  pak, Saya warga Desa Besuki. Saya kesini ingin melihat secara langsung lokasi pengeboran yang sedang ramai dibicarakan.”

Pak Satpam kembali berkata,

“Saya takutnya mbak ini wartawan. Karena wartawan dan media apapun itu memang dilarang masuk ke area ini. Mbak kalau mau ngambil gambar dari sini saja. Jangan mendekat ke lokasi,” ujarnya.

Baiklah, Saya tidak mendekat ke lokasi pengeboran. Dengan cepat saya mengganti lensa kamera. Dari semula EFS 18-55 mm langsung berubah menjadi EFS 55-250.

Saat ditanya mengapa wartawan dan media tidak boleh masuk ke lokasi,

“Memang aturannya seperti itu mbak,” jawabnya.

5

Anak-anak desa bebas bermain di area pengeboran

4

Dibalik gundukan pasir terdapat kolam air yang digunakan anak-anak untuk mandi

Terdapat kolam air disebelah gundukan pasir tersebut. Air bekas kolam ikan digunakan anak-anak untuk mandi. Terlihat dari beberapa anak basah kuyup setelah keluar dari kolam. Namun saya tidak bisa mendekati lokasi untuk memastikan seberapa besar dan dalamnya.

Kembali ke masalah pengeboran yang akan dilakukan oleh Lapindo. Aziz menjelaskan, sesuai dengan izin yang diberikan warga pada Desember 2015, saat ini Lapindo hanya bisa melakukan pengurukan tanah untuk pijakan alat tanpa melakukan pengeboran.

“Kalau dulu itu izinnya pengurukan, bukan pengeboran. Tapi yang saya lihat sekarang ini Lapindo sudah mulai meletakkan pipa-pipa besi yang untuk ngebor,” tutur Aziz.

Saikun (60), warga Dusun Kaliwungu juga mengatakan bahwa pipa pengeboran seharusnya datang setelah pengurukan selesai dan mendapat kembali  izin dari warga.

“Saat tahu truk yang mengangkut pipa-pipa itu datang, ibu-ibu Dusun Kaliwungu mengadakan demo. Kami khawatir kalau Lapindo melakukan pengeboran lagi. Sampai saat ini warga hanya member izin untuk pengurukan bukan pengeboran,” ungkapnya.

IMG_7440

Batas antara lokasi pengeboran dan permukiman hanya terbuat dari pagar besi yan sudah berkarat

IMG_7463

jarak antara lokasi pengeboran dan permukiman hanya 90 meter

Lokasi pengeboran yang jaraknya hanya 90 meter juga membuat warga resah.

“Jaraknya saja sudah menyelahi aturan. seharusnya jarak aman dari permukiman itu 150 meter. Bahkan peraturan terbaru jaraknya harus 1 km,” ucapnya.

Ia menambahkan, sebelum pengurukan dilakukan, Lapindo menjanjikan uang debu Rp 1 juta per KK untuk warga di tiga dusun yaitu Kaliwungu, Banjar Anyar dan Gayam. Namun pada 7 Januari warga hanya mendapatkan Rp 350 ribu per KK.  Sehari setelah itu,  Lapindo mulai melakukan pengurukan.

“Dari awal kami selalu dibohongi. Sekarang ini Lapindo seperti  ingin secepatnya melakukan pengeboran. Kami masih trauma dengan suara pengeboran yang membuat kami tidak bisa tidur siang dan malam,” lanjutnya.

Masih teringat jelas dalam ingatannya. Sekitar tahun2000 Lapindo mulai melakukan pengeboran di lokasi yang saat ini telah diberi pita berwarna merah putih itu. Mulanya pihak Lapindo mengatakan bahwa suara yang akan  keluar dari aktifitas pengeboran tidak akan mengganggu warga. Namun hampir dua bulan, nyaring suara mesin terus  terdengar hingga jarak 2 km.

“Dulu pihak Lapindo bilang kalau suaranya cuma des des aja. Kami ya percaya saja karena kami tidak pernah tahu bagaimana suara pengeboran. Nelongso mbak. Nggak bisa tidur  karena sangat bising.”

Masih di tahun 2000 Aziz dan Saikon menjelaskan bahwa warga menolak rencana pengeboran dengan mengumpulkan tanda tangan warga. Namun ada oknum yang menjadikan tanda tangan itu menjadi bukti persetujuan warga terkait pengeboran.

Kebohongan lain dari pihak Lapindo yang diungkapkan oleh Saikon adalah terkait izin aktifitas. Menurutnya, izin yang keluar ke warga ialah untuk pendirian pabrik mi instan. Warga sempat menolak ketika mengetahui lokasi tersebut akan dijadikan sumur gas. Mereka mulai melakukan aksi. Kekuatan warga terkikis setelah beberapa tokoh masyarakat di desanya mendapatkan tekanan dari pihak Polres. Tidak hanya itu, Kepala Desa yang baru yaitu Mukison sangat jelas mendukung aktifitas pengeboran tersebut.

“Kami seperti kehilangan pegangan. Pergerakan tiga tokoh masyarakat kami saat ini diawasi secara ketat oleh Polres sehingga mereka diam. Kepala Desa yang lama yaitu Pak Didik dulu sangat gencar menolak pengeboran. Tapi setelah pergantian kepdes kami sudah tidak bisa apa-apa,”  ungkap Saikon.

Tidak sampai disitu. Terkait pemasangan pipa sesuai sosialiasi, Lapindo akan menanam pipa penyalur gas di jalan raya. Namun yang terjadii, pipa tersebut dipasang di lahan warga. Setelah mendapatkan protes, Lapindo memberikan kompensasi sebesar Rp 300 ribu per rumah.
“Banyak sekali kebohongan Lapindo. Dari awal sampai sekarang. Dulu juga pernah berjanji akan memberikan pasokan gas untuk warga. Tapi sampai saat ini cuma omong kosong. Pipa penyalurnya memang ada namun tidak berfungsi,” ucapnya sambil tertawa dan menggeleng.

Ia mengatakan, selama ini ia dan warga telah melakukan penolakan namun selalu dihalangi.

“Setelah kasus Lumpur Lapindo yang ada di Desa Renokenongo itu, warga semakin takut jika disini di bor lagi. Kami takut jika kami menjadi korban selanjutnya. Saya sudah tidak bisa percaya sama aparat desa dan hukum. Intinya saya tidak rela dunia akhirat,” pungkasnya.

Saatnya Kembali Ke Organik


Di zaman yang modern ini semua serba cepat dan efisien. Jika menginginkan jus buah kita tidak perlu membuatnya atau menunggu penjual membuatkan jus yang kita pesan karena di warung dan minimarket banyak tersedia jus yang siap minum. Contoh lain ketika kita membeli sayur dan buah pasti kita akan memilih yang masih segar dan bagus. Bagus dalam arti sayur tersebut masih utuh tanpa gigitan ulat.

Semua mengingkan kecepatan karena efisiensi waktu. Namun yakinkah kita jika jus buah yang kita beli di minimarket itu adalah buah yang baik? Begitu pula dengan sayur yang bagus. Yakinkah kita jika sayur yang  bagus ttersebut adlah sayur yang sehat?

Lagi

Eksploitasi Atas Nama Pembangunan


Pada 19 maret 2013, salah seorang warga mengirimkan pengaduannya ke page facebook Wahana Lingkunga Hidup Jawa Timur (WALHI Jatim). Ia menulis tentang kerusakan lingkungan di daerahnya. Kerusakan lingkungan tersebut terjadi karena aktifitas pertambangan batu dan pasir. Ia adalah Mbah Jembrak, warga Kecamatan Paserpan Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Berikut ini adalah pengaduannya yang dikirim melalui halaman facebook WALHI JATIM.

“Daerah Pasrepan kabupaten Pasuruan makin marak pertambangan batu dan pasir. Namun yang lebih dominan adalah pertambangan batu. Alat-alat berat datang  untuk merusak kelestarian alam sekitar. Bahkan mereka menutup aliran sungai untuk jalan pengangkutan material. Kini tanah di daerah kami tidak produktif. Lahan pertanian berubah menjadi jalan. Air tidak bisa mengalir karena sungai berubah menjadi jalan. Kami yang berada di bawah bukit bersiap saja jika suatu saat banjir bandang mengusir kami.” Lagi

Look Soe Hok Gie’s Soul in Qusyairi’s Self


Sebenarnya tulisan ini mendadak dibuat saat dosen menyuruh untuk membuat tulisan pendek.
mohon maaf jika grammarnya masih amburadul.. percobaan

Soe Hok Gie or usually called Gie was a young activist from tionghoa’s descent.  Since 15 years old, he has been written about all of his activity in his diary. He is an activist and student from University of Indonesia. He is a journalist. He always gives criticism of government performance that he considered detrimental to the minority.  I really like this words,
“In Indonesia there are only two choices. Being an idealist or an apathetic. I have been decided for a long time that I should be an idealist as far into outer limits as I can get. ” Lagi

Nggak Masuk Kuliah? Kenapa?


Oleh : Daris Ilma

Tuhan..

Terimakasih telah memberiku begitu banyak teman. Teman yang bisa membuatku merasa nyaman ketika bersamanya. Teman yang menemaniku hampir 2 tahun ini. Teman yang begitu perhatian denganku. Teman yang begitu sayang denganku. Teman yang membuatku dapat bertahan dalam situasi ini.

Hari ini aku memutuskan untuk tidak masuk kuliah karena aku belum mengerjakan seluruh tugas yang diberikan. Mungkin ini adalah alasan anak SD. Sepertinya aku sudah tidak kuat lagi dengan kondisi ini. Kondisi dimana aku menjalani hari-hari yang sama sekali tak bisa kunikmati.

Kenapa? Karena aku salah masuk jurusan.

Lagi

Tips Menghadapi Ujian Tengah Semester (UTS)


Oleh : Daris Ilma

Mahasiswa. Mau nggak mau harus berhadapan dengan Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Bagaimana kita menyiasati hal itu? tentunya dengan persipan yang matang agar hasil yang kita dapatkan sesuai dengan keinginan atau target kita.

Persiapan yang paling mendasar adalah belajar.

Belajar = nilai baik. Belum tentu. Tetapi yang perlu diingat adalah bagaimana cara belajar kita. Berbicara tentang nilai sebenarnya ada berbagai cara untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Salah satunya dengan mengandalkan teman ataupun melakukan hal-hal curang lain. Lagi

Terimakasih dan Maaf


Oleh : Daris Ilma

Surat untuk sahabat

Cinta…

Beberapa hari ini aku melihat perubahan yang sangat mencolok atas prilakumu terhadap aku. Awalnya aku hanya mengira kalau saat itu engkau banyak kegiatan sehingga tak menyapaku sama sekali. Cinta. Entah ini hari yang keberapa kau diam dan tak menyapaku.  Kau tak lagi duduk disampingku. Sapaan yang kuberikan juga tak mendapat respon darimu. Pesan singkat yang kukirim juga tak mendapat balasan darimu. Saat itu aku berfikir kau sanggat sibuk sehingga tak biisa membalas pesan yang kukirim.

Cinta…

Aku sudah tak tahan melihatmu seperti ini.
Tolong katakan mengapa kau seperti ini.

Didepanmu mungkin aku terlihat bisa menerima semua itu. Tapi dalam hati ini selalu bertanya

“Apakah aku melakukan kesalahan?”
“Apa kesalahanku?”

Entah mengapa sebuah pemikiran muncul ketika aku kembali melihat status di Fbmu.

“Dengan cara apalagi kesadaran akan kewajiban yang jauh lbih besar beban amanah nya dpt terebut kembali? Saat smua sdh gelap oleh pekatnya kabut opini dan labilnya tiang pemikiran shngga mudah goyang? Saya angkat tangan dan menyerah. Hidup baginya adlh pilihan (sngt relatif tak brbatas).”

Lagi

Previous Older Entries

%d blogger menyukai ini: