Mari Hadang


Erma Retang dan Anak Bungsunya

Erma Retang dan Anak Bungsunya

 Tadi sekitar pukul 22:00 seusai kuliah aku membuka facebook dan melihat notif yang bikin aku pengen copas tulisannya di blog ini. Satu notif yang membuatku tertarik adalah notif dari Erma Retang, yang biasa dipanggil Bunda Erma oleh anak-anak muda seperti aku. Ia menuliskan puisi tentang fasisme. Bunda Erma adalah ibu rumah tangga yang aktif dalam kegiatan sosial. Orang biasa bilang aktifis. Pernah juga memberikan pelatihan membuat kerajinan tangan untuk ibu-ibu korban Lumpur Lapindo. Ibu rumah tangga yang unik.

Berikut ini adalah puisi yang Bunda Erma tulis ditengah hiruk pikuk Pilpres dan penindasan kepada rakyat kecil. Di Bali masyarakat melakukan aksi penolakan reklamasi Teluk Benoa. Di Wotgalih, Lumajang akan ada atau mungkin sudah dilakukan pengerukan pasir besi di Pantai mBah Drajid demi pembangunan dan investasi di kota-kota besar. Di Porong korban Lumpur Lapindo masih berjuang untuk bersosialisasi dengan lingkungan baru setelah mereka secara halus diusir dari tanah kelahirannya, ada juga korban yang masih berjuang untuk menuntut penyelesaian ganti rugi yang hingga delapan tahun ini belum dibayar lunas. Di Rembang, Jawa Tengah ada rakyat yang dihadapkan dengan aparat polisi karena mempertahankan lahannya yang akan dibongkar menjadi tambang PT Semen Indah dan pengerukan pegunungan Kendeng. Di Karawang rakyat dihadapkan dengan ribuan brimob dan preman Agung Podomoro Group Tbk demi mempertahankan tanah yang telah mereka kelola turun-temurun.

MARI HADANG!!!

Mari Hadang

Fascist itu ada di depan mata

hunus bedil halau petani dan buruh jelata

demi jaga modal bisnis

dengan deretan nol berbaris baris

Fascist itu ada di belakang punggung

siap tembak layaknya operasi petrus masa Orba

mengendus setiap jejak lurus lengkung

layaknya gagak buntuti pencabut nyawa

Fascist itu ada di setiap lekuk lengan

yang saling berhimpitan dalam barisan

menyelusup antara sela jemari dan tungkai

lekat erat antara mata dan nyali

Lalu fascist mana yang hendak di hadang

sedang mereka ada diantara kita semua

berhumbalang demi kekuasaan semesta negri

berserakan serupa kotoran tak bisa di cuci

Jika hadang satu sembari lupa yang lain

apa beda dengan bergumul di dalam kain

mereka ada seribu lusin

mari hadang dengan jemari dijalin

kita sama tahu siapa musuh dan lawan

pun kita tahu sumber kekuatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: