Perjalanan Sanggar Alfaz, Sanggar Untuk Anak-Anak Korban Lapindo


Lumpur Lapindo

Lumpur Lapindo

Empat tahun sudah Sanggar Alfaz yang berada di Desa Besuki Kecamatan Jabon bertahan dengan tujuan utamanya yaitu untuk memberikan ruang kepada masyarakat korban Lumpur Lapindo. Empat tahun bukan waktu yang singkat. Dalam lima tahun ini keberadaan sanggar tidak lepas dari pro kontra warga. Ada yang menyambut baik berbagai kegiatan di sanggar. Ada juga yang merasa tidak nyaman karena kegiatan di sanggar membuat suasana ramai dan berisik. Mengganggu kenyamanan kata lainnya.
Berdiri pada tahun 2009. Much. Irsyad atau yang biasa dipanggil Cak Ir sebagai pendiri sanggar mengaku lupa bulan apa sanggar berdiri. Agar mudah diingat, maka Cak Ir menggunakan bulan Januari sebagai bulan berdirinya sanggar.

Irsyad sendiri menggap berdirnya sanggar adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan.
”Perjuangan bukan hanya dengan cara demo atau melakukan aksi turun ke jalan. Jika mereka befikir seperti itu, berarti mereka adalah orang yang egois. Mereka tidak berfikir bagaimana nasib anak-anak yang kehilangan tempat bermain dan kehilangan perhatian dari orangtuanya. Ini adalah suatu bentuk untuk memperjuangkan hak-hak mereka sebagai seorang anak.” terang Irsyad.

Di Sanggar Anak Al-Faz ini terdapat perpustakaan dan beberapa alat-alat musik. Awal berdirinya sanggar, jumlah buku yang tertata dapat dihitung dengan jari. Tapi kini  jumlah buku telah bertambah karena banyaknya dermawan yang menyumbangkan bukunya pada sanggar tersebut. Alat-alat musik yang ada kini juga bertambah. Pianika yang dulu sendiri kini telah ditemani oleh alat-alat musik yang lain. Seperti Gong, Jimbe, Jaranan, Balera, Ketipung dan masih banyak lagi. Semua alat musik itu adalah sumbangan dari sanggar-sanggar yang ada di Jawa Timur seperti Malang, Blitar, surabaya dan yang lainnya.

Irsyad bersukur dengan perkembangan sanggar yang ia dirikan. Baginya tak ada kebahagiaan yang dapat melebihi kebahagiaan saat melihat anak-anak brgembira dan ertawa lepas seperti yang mereka lakukan sebelum adanya Lumpur Lapindo.  Pekerjaannya sebagai petani tak melumpuhkan semangatnya untuk terus mendirikan sanggar di tengah gunjingan masyarakat terhadapnya.

Anak-anak Sanggar Alfaz

Anak-anak Sanggar Alfaz

Semula, anggota dari sanggar ini hanya berjumlah delapan orang saja. Seiring bejalannya waktu, jumlah mereka bertambah menjadi 32 orang.  Tapi karena ada pihak-pihak yang tidak suka dengan adanya sanggar dan kurangnya kesadaran orangtua terhadp pentingnya sanggar, mereka melarang anak-anaknya untuk masuk dalam sanggar ini. Dan kini anggota sanggar berjumlah 25 orang saja. Anak yang terggabung dalam sanggar rata-rata berusia 7 sampai 16 tahun.

Awal mula mereka menjadi anggota sanggar, mereka adalah pribadi yang pemalu dan egois. Mereka tak bisa memainkan alat musik. Mereka malu untuk menari.Mereka tak mau berbagi dengan yang lain. Mereka malu melakukan sesuatu jika ada yang melihat. Mereka juga malu untuk berkomunikasi dengan orang yang baru mereka kenal. Pelan tapi pasti mereka berubah menjadi anak yang periang. Mereka tak malu lagi berkomunikasi dengan tamu yang berkunjung ke sanggar. Mereka berani membaca puisi dengan ekspresi yang bisa dianggap lucu. Mereka bisa berbagi dengan yang lain karena mereka dapat memahami makna kebersamaan. Mereka tak malu lagi menyanyi dan menari. Mereka juga sangat bersemangat jika melihat alat musik. Mereka segera memukul alat-alat musik itu dengan keras.

Untuk lebih meningkatkan fungsi sanggar dan melihat kondisi masyarakat yang membutuhkan tempat untuk berdiskusi maka ada beberapa kegiatan yang diadakan di sanggar seperti pembuatan Green House, Sablon, Jimpitan Sehat, Senam Pagi dan Sinau Bareng. Semuua kegiatan tersebut dilakukan di sanggar kecuali Senam Pagi yang dilakukan di bekas jalan tol Surabaya-Gempol.

Green House di Sanggar Alfaz

Green House di Sanggar Alfaz

Green House ini dibuat untuk warga desa yang masih ingin bertani setelah sawah mereka terendam lumpur. Green house yang dibuat sekitar Oktober 2011 ini dibuat di halaman depan Sanggar. Pertanian lahan terbatas tersebut memanfaatkan pupuk organik berupa sisa sayuran dan kotoran sapi. Hal ini dibuat agar warga tetap bisa bertani tanpa mengeluarkan uang untuk membeli pupuk di toko karena pupuknya dibuat sendiri. Namun usaha green house ini tidak terlalu mendapatkan perhatian warga sehingga pengelolaan selanjutnya dilakukan oleh anak-anak Sanggar. Panen pertama berupa sawi. Hasil panen ini kemudian  dibagikan kepada warga agar warga tersadarkan bahwa mereka bisa bertanam organic dengan lahan yang  tidak terlalu luas.

Proses Menyablon Dilakukan Oleh Pemuda Desa

Proses Menyablon Dilakukan Oleh Pemuda Desa

Pada 16 Februari 2012 Sanggar mulai mengadakan usaha sablon. Hal ini karena Melihat kondisi pemuda desa yang mengandalkan hidupnya dari penjaga portal yang menurut Irsyad sebagai, ‘penghancuran derajat mereka sebagai pemuda yang seharusnya produktif menjadi pengemis.’ Atas dasar kegelisahan itu Irsyad, Rere dan Rokhim membuat wadah bagi pemuda Besuki Timur agar dapat berkreasi yaitu dengan mengadakan usaha sablon. Gang sebelah Barat rumah dimanfaatkan sebagai tempat untuk usaha sablon. Dengan adanya sablon ini beberapa warga Besuki Timur lainnya mulai berkunjung ke Sanggar, seperti Yusuf dan Musliman.

Salah satu keprihatinan warga Besuki Timur yang menjadi korban lumpur Lapindo adalah tidak adanya perhatian dari pemerintah tentang persoalan kesehatan masyarakat. Jika ada warga yang sakit, mereka kesulitan berobat karena tidak punya cukup biaya. Hal ini membuat Irsyad,  Rochim, Rere, Taba dan Catur berinisiatif mengumpulkan ibu-ibu Besuki Timur untuk ngobrol bersama soal kesehatan. Dari pertemuan tersebut mereka mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana cara mendapatkan kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Ibu-ibu yang datang cukup banyak. Pada pertemuan kedua hingga keempat Sanggar mengundang dr. Joko Kepala Puskesmas Jabon untuk memberitahu warga tentang alur pembuatan kartu Jamkesmas tersebut. Dalam pertemuan tersebut disepakati untuk menarik iuran dari peserta sebagai uang kas. Sesuai dengan kesepakatan uang kas tersebut akan digunakan oleh keluarga yang membutuhkan biaya pengobatan. Selain untuk masalah kesehatan, uang kas tersebut tidak dapat dikeluarkan. Kegiatan ini dilakukan setiap Minggu pukul 17:00.

Beberapa minggu setelah berjalannya Jimpitan Sehat, sanggar mengadakan kegiatan Senam Pagi. Kegiatan ini dilakukan setiap Minggu pagi pukul 06:00. Antusiasme warga ternyata cukup tinggi dengan kegiatan ini. Mulai dari anak-anak hingga nenek-nenek memenuhi bekas jalan tol Surabaya-Gempol. Instruktur senam ini adalah Aida dari Sidoarjo. Ia rela tidak dibayar karena mengetahui kondisi ekonomi warga yang tidak lagi lancar.

Pada Agustus 2012 sanggar mulai membuka Sinau Bareng. Kegiatan ini dilakukan setiap Jumat hingga Minggu. Dalam kegiatan ini anak-anak diajarkan bagaimana cara memahami pelajaran mereka tanpa menghafal.  Kegiatan ini dimulai pukul 18:00-20:00 terkadang sampai pukul 21:00 tergantung minat anak-anak. Ada beberapa mata pelajaran yang diajarkan dalam kegiatan ini seperti Matematika (Koordinator, Daris), Musik(Koordinator, Eko), Komputer dan IT (Korrdinator,Hisyam), Ilmu Pengetahuan Sosial (Koordinator, Fahmi) dan Ilmu Pengetahuan Alam (Koordinator, Gayu). Anak-anak yang mengikuti kegiatan ini antara 6-10.

Kegelisahan atas keberlanjutan kegiatan-kegiatan di sanggar muncul ketika keluarnya Perpres 37/2012, yang mencantumkan wilayah Besuki Timur dalam peta area terdampak. Banyak ibu-ibu atapun anak-anak yang menanyakan pada Irsyad dimana ia akan pindah dan bagaimana keberlanjutan kegiatan sanggar. Irsyad lalu menjawab,
“Dimanapun saya pindah saya akan tetap menyediakan tempat untuk berkumpul. Dan sanggar akan tetap ada.” Ucap Irsyad

1 Komentar (+add yours?)

  1. bangvie75
    Jul 14, 2013 @ 22:42:56

    Reblogged this on bangvie75.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: