Terimakasih dan Maaf


Oleh : Daris Ilma

Surat untuk sahabat

Cinta…

Beberapa hari ini aku melihat perubahan yang sangat mencolok atas prilakumu terhadap aku. Awalnya aku hanya mengira kalau saat itu engkau banyak kegiatan sehingga tak menyapaku sama sekali. Cinta. Entah ini hari yang keberapa kau diam dan tak menyapaku.  Kau tak lagi duduk disampingku. Sapaan yang kuberikan juga tak mendapat respon darimu. Pesan singkat yang kukirim juga tak mendapat balasan darimu. Saat itu aku berfikir kau sanggat sibuk sehingga tak biisa membalas pesan yang kukirim.

Cinta…

Aku sudah tak tahan melihatmu seperti ini.
Tolong katakan mengapa kau seperti ini.

Didepanmu mungkin aku terlihat bisa menerima semua itu. Tapi dalam hati ini selalu bertanya

“Apakah aku melakukan kesalahan?”
“Apa kesalahanku?”

Entah mengapa sebuah pemikiran muncul ketika aku kembali melihat status di Fbmu.

“Dengan cara apalagi kesadaran akan kewajiban yang jauh lbih besar beban amanah nya dpt terebut kembali? Saat smua sdh gelap oleh pekatnya kabut opini dan labilnya tiang pemikiran shngga mudah goyang? Saya angkat tangan dan menyerah. Hidup baginya adlh pilihan (sngt relatif tak brbatas).”

Angkat tangan?

Apakah ini berarti kau telah menyerah padaku yang keras kepala ini?

Apakah berarti persabatan kita cukup sampai disini?

Apakah kau sudah tak mau menjadi temanku lagi?

Tolong katakan cinta

Kini aku sadar. Ini salahku. Cinta. Maafkan aku.

Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Rasa kehilangan yang begitu dalam. Kehilangan tawamu untukku. Kehilangan waktu kita. Kehilangan kehangatanmu. Kehilangan sosok yang kupanggil cinta.

Maafkan aku cinta. Tapi kata maaf itu tak sanggup aku ucapkan kepadamu. Aku terlalu takut. Aku terlalu angkuh. Karena aku tak sanggup untuk menanyakannya padamu. Aku takut air mata yang jatuh saat aku menulis ini akan jatuh pula saat aku berhadapan denganmu untuk mengatakan maaf.

Cinta…

Ingatkah kamu bagaimana kita bertemu dulu?
Bagaimana kita bisa menjadi seorang sahabat?

Saat menjadi mahasiswa baru. Kamu dan aku ada dalam satu kelompok. Karena banyaknya penugasan yang diberikan saat ospek membuat kita sering bersama. Menghabiskan waktu untuk mengerjakan penugasan bersama. Beli peralatan untuk penugasan bersama. Hingga semester 3 kamu dan aku selalu bersama. Tak jarang orang menyebut kita saudara kembar. Terkadang orang salah memanggil kita. Mereka memanggilmu, padahal itu aku. Mereka memanggilku, padahal itu kamu. Lagi-lagi kita dianggap kembar. Senang juga punya saudara kembar  .

Tapi. Meskipun kembar kita tak selalu sama. Kau adalah wanita yang cantik, alim dan cerdas. Karena kecerdasanmu kau bisa meraih gelar Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) saat semester 2. Aku salut, senang dan bangga mempunyai teman sepertimu. Bagiku kau adalah sosok yang sangat sempurna. Mungkin bukan hanya aku. Teman-teman yang lain mungkin berkata demikian. Kau adalah wanita yang sempurna.

Pernah aku mendengar salah satu teman sekelas kita yang perempuan berkata “siapa yang nggak suka sama dia. Kalau aku cowok pasti aku sudah jatuh cinta padanya”.

Dengan semua yang kau miliki kau tetap seperti cinta. Kau tidak sombong. Kau sangat lembut dan penuh kasih sayang.

Ya. Itulah cinta.

Berbeda dengan aku yang tak cantik, nggak begitu alim dan untuk masalah pelajaran jauuuuuhhhhhhh tertinggal dari kamu. Terkadang aku juga malu untuk berjalan sejajar dengan cinta yang mempunyai segudang prestasi dan cinta yang sempurna.

Tapi aku sangat bersyukur mempunyai cinta yang tak pernah mempermasalahkan itu semua. Cinta selalu meluangkan waktunya untukku jika aku tersendat masalah pelajaran. Cinta selalu menghiburku dengan kegejeannya. Cinta yang membuatku lebih baik dari sebelumnya.

Semester 4 ini aku terlalu sibuk dengan duniaku. Kau pasti tahu itu cinta. Karena aku merasa tak sejalan dengan program studi yang aku mabil akhirnyaaku menyibukkan diriku dengan mengikuti berbagai organisasi dan segala hal yang berhubungan dengan masyarakat. Aku mulai ikut aksi di beberapa tempat. Aku juga sering meninggalkan kewajibanku sebagai seorang mahasiswa yaitu “kuliah dan belajar”.

Mungkin selama 2 tahun ini kau telah capek dan lelah berteman denganku. Kau telah lelah mengingatkanku untuk belajar. Kau telah lelah mengingatkanku apa kewajibanku. Hingga kau menulis status itu. kau telah angkat tangan.

Cinta…
Mungkin kini kau telah menemukan sahabat yag jauh lebih baik daripada aku. Aku yakin sahabat baru itu dapat memberikan senyum yang lebih untukmu. Aku yakin sahabat baru itu adalah orang yang beruntung. Dan engkau tak perlu repot untuk terus mengingatkannya karena dia adalah bukan sosok yang angkuh seperti aku.

Cinta…
Selama ini kau telah memberikan perubahan yang begitu besar untukku. Kau telah sabar menuntunku. Jika kau membaca ini aku ingin mengucapkan maaf atas semua kelalaian dan kesalahn yang pernah aku lakukan terhadapmu. Dan aku juga sanggat bersyukur pernah memiliki sahabat sepertimu. Aku tidak meminta agar kita bisa kembali seperti dulu karena aku tak ingin merepotkan kamu lagi. Terimakasih sudah pernah menggoreskan kenangan yang begitu indah.

Maaf telah merepotkanmu. Maaf telah membuang waktumu. Maaf telah menyakiti hatimu.

Cinta..
Meskipun aku mempunyai banyak teman dan sahabat. Bagiku kaulah sahabat terbaikku.

Terimakasih cinta.

3 Komentar (+add yours?)

  1. septiadiah
    Apr 20, 2012 @ 17:28:17

    yg sering dibilang kembar sama daris, memang widad🙂
    dan tebakan mbak ternyata bener begitu ngelihat fotonya🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: