Temukan Jati Diri Di Sanggar Al-Faz


Oleh : Daris Ilma

Lima tahun sudah persoalan Lumpur Lapindo belum juga usai. Masih banyak pekerjaan untuk pihak lapindo dan Pemerintah untuk menuntaskan kasus ini. Dalam pelaksanaan penyelesaian ganti rugi selama ini hanya segi ekonomi saja yang diangkat ke publik. Sementara dari segi sosial sepertinya kurang mendapatkan perhatian serius. Korban yang disibukkan dengan urusan ganti rugi, mencari pekerjaan baru karena pabrik dan sawah mereka tenggelam serta permasalahan untuk masuk dalam peta terdampak tanpa sadar melupakan hak anak-anak mereka untuk mendapatkan kasih sayang.

Desa Besuki yang sebagian wilayahnya telah terendam oleh Lumpur Lapindo dan sebagian wilayahnya masih dalam ketidakjelasan ini berdiri sebuah sanggar dengan nama Sanggar Anak Al-Faz. Much. Irsyad (46 th), warga Desa Besuki atau yang akrab dipanggi Cak Ir ini mendirikan sanggar bemain dengan tujuan agar anak-anak tidak merasa kehilangan perhatian dan kehilangan tempat bermain mereka.

Hampir tiga tahun sudah sanggar yang terdiri dari dari anak-anak yang berusia 7 hingga 16 tahun ini berdiri tetapi masih bisa mempertahankan eksistensinya ditengah pasang surut anggota dan konflik yang terjadi di lingkungan korban. Mereka yang tergabung di sanggar ini terlihat lebih percaya diri dan mampu bersosialisasi dengan kawan dan lingkungan mereka. Hal ini tak lepas dari banyaknya kegiatan yang diadakan di sanggar ini diantaranya latihan menari, menyanyi, membaca puisi dan memainkan alat-alat musik tradisional.

Salah Satu Kegiatan Di Sanggar Alfaz

Salah Satu Kegiatan Di Sanggar Alfaz

“Setelah bergabung dengan sanggar ini saya bisa bertemu dengan banyak teman, bermain, bisa membaca puisi dan menulis cerita. Saya jadi tahu kelebihan dan kekurangan saya. Kelebihan saya ialah saya meyanyi, menari, menulis cerita dan masih banyak lagi. Sedangkan kekurangan saya ialah masih sedikit malu dan ragu jika naik panggung.” Ujar Nita (11 th), salah satu anak yang bergabung di sanggar tersebut.

Berbicara masalah panggung, anak-anak di sanggar ini sudah lebih dari lima kali naik turun panggung. Berbagai acara telah mereka isi dengan mempersembahkan sebuah tarian, lagu daerah dan puisi. Ini bisa menjadi nilai tambah untuk mengasah mental mereka kelak. Hampir seluruh anggota sanggar ini kini tak malu lagi untuk naik ke atas panggung. Salah satunya dalam acara peringatan lima tahun Lumpur Lapindo yang di tanggul Desa Siring 29 mei 2011 lalu. Mereka menampilkan beberapa lagu dan tarian daerah serta puisi yang dibuat sendiri oleh Cak Ir. Diatas panggung mereka terlihat percaya diri dan tak malu lagi untuk menatap wajah penonton.

Salah satunya Fika (12 th) yang membacakan puisi berjudul “Tertipu”. Saat membawakan puisi tersebut air mata mengalir dari mata sipitnya. Ketika ditanya bagaimana perasaan dia setelah mebacakan puisi tersebut dihadapan warga korban lumpur ia menjawab, “Saya sedih tapi saya bangga telah membacakan puisi tersebut. Saya merasa lega karena saya bisa mengungkapkan kemarahan saya. Lumpur telah menghancurkan impian orang-orang. Kini saya tau bahwa saya telah ditipu.”

Anak kecil ini ternyata mempunyai tips agar tidak grogi saat berada diatas panggung. “Agar saya tidak malu saat berada diatas panggung dan saat membacakan puisi tersebut maka saya menganggap penonton tidak ada sehingga saya merasa bebas untuk berekspresi. ”
Berikut isi puisi yang sempat dibacakan oleh Fika saat peringatan 5 tahun lumpur.

Tertipu

Rumahku adalah surgaku
Kampungku adalah ruang bermainku
Disana kami bersukaria
Petanipun bahagia

Tapi kini semua tinggal cerita
Kau tipu aku dengan pembangunan
Dan pondasi bangunan itu adalah deritaku

Kini tak ada lagi surga
Tak ada lagi tempat bermain
Tak ada lagi panen padi
Tak ada lagi ruang untuk bernafas lega

Wahai orang kaya serakah
Wahai penguasa durjana
Jangan salahkan jika kami melawan

Karena kau!
Yang mengusik merusak dan menghancurkan mimpiku

“Sebelum ada sanggar saya merasa tidak mempunyai teman. Saya hanya berdiam di depan televisi. Sekarang saya senang karena mempunyai banyak teman dan bisa mengetahui kelebihan dan kekurangan saya.” Ucap Fika dengan senyumnya yang manis.

Meskipun letak sanggar yang berada di desa terpencil, telah banyak turis yang berkunjung ke sanggar ini. Diantaranya Prancis, Inggris, Swiss, kanada dan masih banyak lagi. Selain itu telah banyak mahasiswa yang menjadikan sanggar ini sebgai bahan skripsinya. Berbagai bantuan yang mengalir disanggar ini sebagian besar dari mahasiswa yang memberikan pelatihan menggambar, menganyam dan sebagainya. Salah satunya mahasiswa dari Universitas Pelita Harapan (UPH) yang memberikan bantuan buku dan pelatihan menggambar.

Mereka tak lagi kehilangan tempat bermain. Kapanpun mereka bisa datang ke sanggar untuk melepaskan lelah. Banyaknya permainan di sanggar ini menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka. Harapan cak Ir pada anak-anak sanggar adalah agar mereka dapat menemukan bakat dan minat mereka. Mereka lebih mempunyai keberanian dan tidak malu. Ia juga mengatakan jika ia masih membutuhkan dukungan dari banyak pihak baik dari orang tua dan warga desa Besuki sendiri. Ketika ditanya tentang dukungan dari pemerintah dengan tegas ia menjawab “Saya sudah tidak percaya dengan kredibilitas pemetintah. Mesikpun ini adalah kewajiban pemerintah tapi saya ingin membuktikan bahwa tanpa dukungan pemerintah kita bisa.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: