Kerusuhan dan Teror Setelah Adanya Lumpur Lapindo


Oleh : Daris Ilma

Sudah empat tahun bumi memuntahkan isi perutnya. Cairan hitam itu tak kunjung berhenti. Bumi marah karena ulah tangan-tangan jahil yang mengatasnamakan Penambangan. Penambangan yang sebelumnya tak pernah diketahui oleh warga sekitar. Bau busuk menyengat itulah yang berbisik ke telinga warga. Warga berbondong ke lokasi terjadinya semburan. Mereka mengaku melihat cairan hitam pekat yang kini telah menenggelamkan rumah mereka.

Mereka dipaksa keluar dari rumah yang mereka huni selama ini. Mereka dipaksa merelakan sawah tempat mengais rezeki yang tenggelam di depan mata. Mereka dipaksa menurut dengan peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh pihak penambang terhadap korbannya. Dan hidup mereka menjadi porak-poranda karena ulah Lumpur. Banyaknya masalah yang terjadi setelah adanya kasus Lumpur Lapindo merupakan ketidakberdayaan pemerintah menangani sebuah kasus sehingga menimbulkan perselisihan. Terutama mereka yang menjadi korban.

Mendengar kata Lumpur saja sudah membuat hati marah apalagi mendengar siapa pemilik PT. Lapindo Brantas. Anda pasti akan merasakan rasa marah yang hebat. Benar bukan?

Suasana harmonis hilang setelah lumpur datang. Warga antar desa yang semula rukun kini saling membenci. Desa Besuki yang terletak sekitar empat km dari pusat semburan harus bentrok dengan Warga Desa Renokenongo yang terletak sekitar tiga km dari pusat semburan. Bentrok dipicu oleh penolakan warga masing-masing desa terhadap pembuangan Lumpur. Kedua belah pihak menginginkan desanya selamat dari luberan Lumpur. Aksi saling lempar batu dan todongan senjata tajampun terjadi. Walaupun dalam bentrok tersebut tak ada korban yang mati, tapi sebenarnya hati mereka telah mati. Kedua desa yang semula rukun kini saling membenci.

Banyak korban luka-luka dalam bentrokan tersebut. Diantaranya Faisol (26), ia mengaku tidak ikut dalam aksi tersebut, ia hanya melihat dan tanpa diketahui seseorang melempar kepalanya dengan batu hingga menyebabkan kepalanya bocor.

Setelah setahun Lumpur menyembur dan tidak juga berhenti, warga Desa Besuki melakukan aksi blokir jalan. Aksi tersebut berada di bekas jalan tol Surabaya – Gempol km 40 yang berlangsung selama 1 bulan. Dalam aksi itu warga menghentikan truk-truk pengangkut sirtu yang otomatis menghentikan proses pembuatan dan perluasan tanggul. Truk-truk tersebut dipaksa menurunkan sirtu untuk menutup jalan. Warga juga memasang berbagai macam spanduk diantaranya “Lapindo, Pemerintah podo gendenge” dan seruan-seruan untuk bersatu karena setelah adanya kasus Lumpur lapindo ini, warga besuki tidak bersatu. Desa Besuki memang terbagi menjadi dua sejak adanya pembangunan jalan tol Surabaya-Gempol. Desa tersebut terbagi menjadi dua yakni Besuki Barat Tol dan Besuki Timur Tol.

Irsyad (43), warga Desa Besuki Timur Tol sekaligus pembuat spanduk mengatakan jika warga ingin keadilan maka warga harus bersatu. Dan mungkin dengan cara ini warga bisa bersatu.

Tanpa disangka Kepala Desa Keboguyang yang letaknya empat km dari Desa Besuki membuat keributan dengan cara menyingkirkan sirtu yang menghalangi jalan. Warga Desa Besuki marah. Irsyad menemui kepala desa itu dan tanpa disangka kepala desa itu mendaratkan pukulannya ke kepala Irsyad. Sontak warga Besuki berteriak. Tak ada yang berusaha menghentikan kejadian itu. Terlihat warga Besiki Barat tol tertawa melihat semua itu.

Setelah itu Kepolisian Jabon dan para TNI turun tangan untuk mendamaikan. Kepala Desa Keboguyang yang mewakili desanya berkata kalau desanya akan tenggelam jika aksi blokir jalan ini terus berlangsung. Sungguh alasan yang sangat tidak logis. Pasalnya jika memang desanya tenggelam pasti akan menenggelamkan Desa Besuki terlebih dahulu yang jaraknya memang lebih dekat dengan tanggul.

“Karena pihak kepolisian sudah tidak sanggup membubarkan aksi warga, maka mereka menghasut warga di desa lain untuk membubarkan aksi yang telah berlangsung selama 1 bulan ini.” terang Irsyad.

Ia juga mengatakan bahwa kepala Desa Keboguyang sekongkol dengan Intel Polres untuk membubarkan aksi itu. Ia menambahkan bahwa pada saat seperti itu sangat terlihat sekali bahwa warga barat tol tidak mendukung aksi blokir jalan itu karena mereka menganggap timur tol bukan termasuk korban dan tidak berhak menuntut apapun.
Indikasi kesengajaan baik dalam kasus bentrok antar desa dan pemukulan yang dilakukan Kepala Desa Keboguyang ini memang dirasakan oleh bapak tiga anak ini. Pertama, peran pemerintah dalam menangani kasus terutama terhadap penanganan masalah Lumpur Lapindo sangat terlihat lamban. Kedua, bentrok yang terjadi antar warga desa tersebut merupakan rencana tersembunyi. Pemerintah dan Lapindo mempunyai provokasi yang sengaja diturunkan untuk mengahsut earga terutama para korban Lumpur Lapindo. Dan yang ketiga ialah baik pemerintah maupun Lapindo memang tidak menginginkan jika warga bersatu. Karena jika warga bersatu mereka takut warga akan membuat kekuatan yang lebih besar. Kekuatan yang melebihi kekuatan aparat-aparat mereka. Kekuatan yang akan menmghancurkan mereka.

Irsyad mengingat kembali masa lalu desanya sambil menghisap rokok yang tinggal beberapa senti. Sebelum ada Lumpur yang memporak-porandakan desanya, suasana guyp desa masih terasa. Misanya Kerja bakti, bersih-bersih, jaga malam dan lain sebangainya. Tapi setalah ada Lumpur, gotong – royong dan aksi sosial yang lain berubah menjadi gotong mayit saja. Ketika ada orang meninggal baru ada kegiatan yang dilakukan bersama-sama. Rasa persaudaran dan empati terkikis. Semua orang menjadi individualis.

Dua tahun sudah Lumpur menyembur dan tidak ada kejelasan tentang Desa Besuki yang sebagian wilayahnya telah terendam Lumpur. Tersiar kabar bahwa Desa Besuki Barat Tol sudah masuk dalam peta terdampak sementara Desa Besuki Timur Tol tidak masuk dalam peta terdampak itu.

Irsyad dan Rokhim akhirnya berangkat ke Jakarta untuk memperjuangkan nasib warga. Ternyata keberangkatan mereka ke Jakarta bersamaan dengan keberangkatan Rokhim dan Mursyid warga Barat tol. Memang ada dua Rokhim tapi Rokhim yang bersama Irsyad adalah Rokhim Timur Tol. Sementara Rokhim yang bersama Mursyid adalah warga Barat Tol. Sebenarnya Mursyid adalah earga Besuki Timur Tol, tapi entah mengapa ia seperti sangat memihak Warga Besuki Barat Tol. Hari keberangkatan dan tujuan mereka sama yaitu untuk memperjuangkan nasib warga tetapi dengan jam dan cara yang berbeda.

Di Jakarta, Irsyad dan Rokhim mendatangi Jaksa Agung Pidana Umum (JAMPIDUM) dan menemui Abdul Hakim Ritonga selaku ketua Jaksa Agung. Mereka membahas masalah kejelasan masalah lapindo yang belum dinyatakan bersalah dalam kasus ini.

Sepulang dari Jakarta tersebar fitnah bahwa keberadaan Irsyad di Jakarta ialah untuk menolak Desa Besuki masuk dalam peta terdampak. Setelah itu padea tanggal 24 Juli 2008 diadakan rapat di rumah H. Arip atau yang biasa dipanggil Wa’ Arip. Dalam rapat tersebut seluruh warga Desa Besuki baik Timur Tol maupun Barat Tol berkumpul untuk mendengarkan hasil dari Jakarta.

Sebelum kita berlanjut, hanya ingin menerangkan bahwa ada dua orang yang mempunyai kemiripan nama disini yaitu Rokim dan Rokhim. Rokim adalah pihak yang memfitnah Irsyad sedangkan Rokhim adalah orang yang menemani Irsyad selama di Jakarta.

Dalam rapat itu Irsyad menanyakan kepada Rokim dan Mursyid alasan mengapa Besuki Timur Tol tidak masuk dalam peta terdampak padahal timur tol juga masuk dalam Desa Besuki. Tapi ertanyaan tersebut tak segera dijawab. Mursyid berkata,
“Ada dua orang Desa Besuki Timur Tol sewaktu di Jakarta yang menolak desanya masuk dalam peta terdampak.”

Irsyad dan Rokhim bahwa yang dimaksud Mursid adalah mereka berdua karena tidak ada lagi warga besuki timur tol yang ke Jakarta selain dirinya dan Rokhim. Karena ia tak merasa melakukan hal itu ia menyuruh agar Mursyid menyebutkan nama orang yang dimaksud. Setelah tiga kali meminta agar Mursid maupun Rokim menyebutkan nama yang dimaksud dan mereka tak mau menyebutkan nama itu, Irsyad berdiri dan hendak menghampiri Mursid. Tapi usahanya dihentikan oleh kawan-kawan yang lain. Ia terus berkata,

“Sebutkan namanya!”

Warga yang sudah mengerti siapa yang dimaksud oleh Mursyid gusar. Mereka memaki Irsyad yang mereka pikir telah menggagalkan desanya masuk peta terdampak.

Irsyad terus meminta agar Mursyid cs menyebutkan nama orang yang dimaksud agar tidak ada salah paham diantara warga. Rapat berlangsung sangat gaduh. Hingga akhirnya dibubarkan.

Saat Irsyad cs keluar dari tempat rapat, warga yang marah memukulinya dan mengeluarkan kata-kata yang sangat menyakitkan hatinya. Untungnya ada kawan-kawan yang melindunginya dari pukulan warga. Kata-kata yang terlontar dari mulut warga diantaranya,

“Bunuh saja orang itu!”

“Kubur hidup-hidup saja dia!”

Setelah rapat yang berakhir gaduh itu, terlihat jelas sikap warga yang tak ingin dia ada. Tetangganyapun tak lagi menyapa. Untungnya masih ada keluarga yang percaya padanya. Hal yang tak diketahui oleh Mursyid cs adalah perekam suara yang dibawa oleh Irsyad. Perekam tersebut ia kalungkan di lehernya. Keluarganya mendengarkan dengan jelas bagaimana rapat berlangsung dari awal hingga kericuhan terjadi.

Seminggu setelah rapat ketika istri dan dua anaknya pergi ke bali untuk mengunjungi keluarga. Hal yang tak pernah ia duga terjadi. Seseorang melempar kaca depan rumahnya dengan batu sebesar kepala. Kejadiannya berlangsung pada pukul tiga pagi saat semua orang sedang terlelap dalam tidurnya. Ia yang waktu hanya berdua dengan anak pertamanya mengira kalau ada toples pecah. Setelah ia bangun dan melihat serpihan kaca yang berserakan hingga pintu dapur, ia menghidupkan seluruh lampu dan keluar menuju ruang tamu bersama anaknya.
“Apakah saya benar-benar bersalah?” ucapnya saat melihat kaca yang berserakan dan batu yang tergeletak.
Pagi harinya orang-orang berbondong untuk melihat kejadian itu. Ia segera melaporkan kasus itu ke Polsek Jabon. Sekitar jam 12 siang kapolsek datang ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). Dari pihak kepolisian tidak ada kelanjutan atas kasus tersebut. Setelah beberapa hari Irsyad mendapat informasi tentang pelaku pelemparan batu. Informasi itu ia dapat dari kawan pelaku itu sendiri. Sebelumnya ia juga sudah menduga bahwa pelakunya adalah Mr. X yang ternyata warga besuki timur tol sendiri.

Setelah kejadian itu, warga mengadakan Jaga Malam karena banyaknya teror yang mampir. Terutama mereka yang masih kerabat dan kawan-kawan Irsyad. Selama jaga malam berlangsung tak lagi teror yang terdengar. Jika saja tak aada lumpur pasti tak akan ada teror.

Memang, menjadi seorang warga Negara tidak semulus yang dibayangkan. Apalagi mereka yang rakyat kecil. Sepertinya perlindungan untuk warga Negara tidak berlaku untuk rakyat kecil. Hanya mereka yang berkuasa dan memiliki kedudukan tinggi dan mempunyai kursi yang berhak mendapatkan perlindungan itu. Hukum juga sepertinya tidak berpihak pada rakyat kecil. Memang Negara kita berasakan hukum. Tapi pada kenyataanya, hukum dapat dibeli.

Tak ada yang berpihak pada mereka. Polisi dengan slogannya “Membantu dan Melayani Masyarakat” kini tak bisa membuktikan slogan yang mereka buat sendiri. Mereka hanya menyusahkan para korban yang menuntut keadilan. Mereka menodongkan senjata pada mereka yang melakukan aksi demonstrasi. Polisi sesungguhnya tak dapat melayani masyarakat dengan baik. Lembaga hukum sesungguhnya tak berpihak pada para korban Lumpur Lapindo. hingga saat ini tak ada upaya hokum yang pasti tentang nasib para korban dan Undang-Undang (UU) apa yang pantas dijatuhkan pada pemilik PT. Lapindo Brantas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: