Sanggar Untuk Anak-anak Korban Lumpur Lapindo


Oleh : Daris Ilma

Anak-anak di Desa Besuki yang sebagian wilayahnya telah terendam oleh Lumpur Lapindo juga mengalami nasib yang tidak jauh beda dengan mereka yang tinggal di pengungsian. Hilangnya perhatian orangtua terhadap perkembangan buah hatinya karena disibukkan dengan masalah lumpur membuat anak-anaknya tumbuh tanpa kasih sayang ditambah dengan tempat bermain mereka yang tenggelam lumpur. Tak ada lagi tempat bermain untuk mereka. Mereka hanya bisa duduk di rumah dan menonton televisi sebagai hiburannya.

Keprihatinan terhadap kehidupan anak yang kehilangan perhatian dari orangtuanya dan hilangnya tempat bermain mereka membuat Much. Irsyad (43), warga Desa Besuki mendirikan sanggar bemain untuk akan-anak. Sanggar itu, ia beri nama Sanggar Anak Al-Faz. Sangar yang berdiri sejak tahun 2009 ini bertujuan agar anak-anak tidak merasa kehilangan perhatian dan kehilangan tempat bermain mereka.

Berdirinya sanggar ini tidak lepas dari pro dan kontra warga Desa Besuki sendiri. Ada yang menganggap jika sebenarnya di Desa Besuki tidak membutuhkan sanggar karena itu bukanlah suatu perjuangan. Yang warga besuki butuhkan adalah solidaritas untuk memperjuangkan nasib mereka dengan cara berdemo atau melakukan aksi turun ke jalan-jalan. Tapi ada pula yang berkata jika sanggar harus didirkan untuk memotivasi anak-anak agar menjadi pribadi mereka sendiri dan agar mereka mempunyai tempat bermain.

100_2378Irsyad sendiri menggap berdirnya sanggar adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan.

”Perjuangan bukan hanya dengn cara demo atau melakukan aksi turun ke jalan. Jika mereka befikir seperti itu, berarti mereka adalah orang yang egois. Mereka tidak berfikir bagaimana nasib anak-anak yang kehilangan tempat bermain dan kehilangan perhatian dari orang tuanya. Ini adalah suatu bentuk untuk memperjuangkan hak-hak mereka sebagai seorang anak.” terang Irsyad.

Di Sanggar Anak Al-Faz ini terdapat perpustakaan dan beberapa alat-alat musik. Awal berdirinya sanggar, jumlah buku yang tertata dapat dihitung dengan jari. Tapi kini jumlah buku telah bertambah karena banyaknya dermawan yang menyumbangkan bukunya pada sanggar tersebut. Alat-alat musik yang ada kini juga bertambah. Pianika yang dulu sendiri kini telah ditemani oleh alat-alat musik yang lain. Seperti Gong, Jimbe, Jaranan, Balera, Ketipung dan masih banyak lagi. Semua alat musik itu adalah sumbangan dari sanggar-sanggar yang ada di Jawa Timur seperti Malang, Blitar, surabaya dan yang lainnya.

Irsyad bersukur dengan perkembangan sanggar yang ia dirikan. Baginya tak ada kebahagiaan yang dapat melebihi kebahagiaan saat melihat anak-anak brgembira dan ertawa lepas seperti yang mereka lakukan sebelum adanya Lumpur Lapindo. Pekerjaannya sebagai petani tak melumpuhkan semangatnya untuk terus mendirikan sanggar di tengah gunjingan masyarakat terhadapnya.

Semula, anggota dari sanggar ini hanya berjumlah delapan orang saja. Seiring bejalannya waktu, jumlah mereka bertambah menjadi 32 orang. Tapi karena ada pihak-pihak yang tidak suka dengan adanya sanggar dan kurangnya kesadaran orangtua terhadp pentingnya sanggar, mereka melarang anak-anaknya untuk masuk dalam sanggar ini. Dan kini anggota sanggar berjumlah 25 orang saja. Anak yang terggabung dalam sanggar rata-rata berusia 7 sampai 16 tahun.

Awal mula mereka menjadi anggota sanggar, mereka adalah pribadi yang pemalu dan egois. Mereka tak bisa memainkan alat musik. Mereka malu untuk menari.Mereka tak mau berbagi dengan yang lain. Mereka malu melakukan sesuatu jika ada yang melihat. Mereka juga malu untuk berkomunikasi dengan orang yang baru mereka kenal. Pelan tapi pasti mereka berubah menjadi anak yang periang. Mereka tak malu lagi berkomunikasi dengan tamu yang berkunjung ke sanggar. Mereka berani membaca puisi dengan ekspresi yang bisa dianggap lucu. Mereka bisa berbagi dengan yang lain karena mereka dapat memahami makna kebersamaan. Mereka tak malu lagi menyanyi dan menari. Mereka juga sangat bersemangat jika melihat alat musik. Mereka segera memukul alat-alat musik itu dengan keras.
Kesenangan yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya. Hal inilah yang membuat anggota sanggar terus bertambah. Tapi ditengah perjalanan mereka meraih kesenangan, mereka dihantam dengan pilihan yang membuat mereka tidak bisa bergerak.

Irsyad heran dengan berkurangnya angota sanggar yang begitu banyak. Ia mencoba untuk menanyakan mengapa mereka tidak pernah bermain ke sanggar. Tapi anak-anak polos itu tak berani menjawab. Mereka bungkam menahan kepedihan yang mereka rasakan. Sanggar tetp berjalan walaupun jumlah anggota berkurang. Ia masih penasaran mengapa sebagian anak hampir tidak pernah bermain ke sanggar. Setelah beberapa minggu ia kembali bertanya pada salah satu anggota sanggar yang nonaktif.

Sungguh suatu perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan oleh para pendidik bangsa. Hal yang tidak patut dicontoh oleh pendidik lainnya. Mereka yang tiba-tiba menghilang dan tak pernah menampakkan hidungnya di sanggar karena pilihan yang diberikan oleh Kepala Sekolah tempat mereka menuntut ilmu.
Soraya (10), anggota sanggar yan kini nonaktif menjelaskan bahwa guru-guru sering memarahinya dan anak-anak anggota sanggar tanpa alasan yang jelas. Ia berkata jika Kepala Sekolahnya memberi pilihan pada anggota sanggar.

”Guru saya bilang masih mau sekolah apa tidak? Kalau masih mau sekolah saya harus tinggalkan sanggar dan jika tidak, bergabung saja dengan sanggar.” ucap soraya pelan.

Sebuah pilihan yang sulit. Di satu sisi mereka ingin mendapatkan pendidikan formal seperti kegiatan belajar-mengajar di sekolah agar mereka tidak tertinggal pelajaran dan dapat mewujudkan cita-citanya. Di satu sisi mereka ingin ingin bermain dan bersenang-senang bersama teman-temannya di sanggar.

Setelah mengadukan hal tersebut pada orang tua mereka, akhirnya orangtua melarang keras mereka bermain ke sanggar agar anak mereka tidak dikeluarkan dari sekolah. Untungnya ada orang tua yang tetap mengizinkan anak-anaknya bermain ke sanggar dan tidak mempedulikan ancaman tersebut.

Pagi hari Irsyad memutuskan untuk mendatangi Kepala Sekolah MI Darus Ulum. Hal yang sudah ia duga sebelumnya terjadi. Kepala sekolah mengelak hal tersebut.

”Bahkan ia mengaku tidak pernah melakukan hal tersebut dan berkata mendukung kegiatan yang dilakukan oleh sanggar. Ia juga berkata kalau sekolah dan sanggar dapat bersatu untuk mengikuti perlombaan-perlombaan yang ada.” terang Irsyad sambil tersenyum.

Berkurangnya jumlah anggota tidak menjadi alasan sanggar untuk berhenti melakukan berbagai kegiatan. Ketika ada kegiaan menggambar dan menari bersama, mereka yang dulu menjadi anggota sanggar hanya dapat melihat. Sangat terlihat dari wajah mereka yang sebenarnya ingin bergabung dengan teman-temannya. Terlihat bagaimana mereka ingin memegang spidol dan bermain dengan kawan yang lain. Mereka hanya bisa melihat. Kawan yang lain selalu mengajaknya untuk ikut bergabung. Tapi karena trauma terhadap ancaman yang mungkin akan terjadi lagi, mereka hanya bisa menggeleng meskipun dalam hati mereka sangat ingin bergabung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: