Ketidaknyamanan Korban Lumpur di Paspor


Oleh : Daris Ilma

Kehilangan tentu saja menyakitkan. Anak kecil yang kehilangan mainannya pasti akan menangis. Keluarga yang ditinggal oleh seseorang dicintai pasti akan menangis. Tak ada seorangpun yang ingin ditinggalkan dan kehilangan. Lumpur Lapindo telah membuat kepedihan yang amat sangat bagi warga korban lumpur yang telah kehilangan semuanya. Mereka kehilangan rumah yang susah payah mereka bangun. Mereka kehilangan lapangan pekerjaan yang selama ini menjadi penopang hidup mereka dan mereaka kehilangan kehidupan yang telah mereka tata sejak lama. Mereka terpaksa merelakan semuanya hilang terkubur lumpur.

Lumpur Lapindo telah mengehentikan bahkan menghilangkan roda kehidupan masyarakat Sidoarjo. Kehidupan mereka porak-poranda menjadi puing-puing yang sulit untuk disatukan kembali.
Tak ada lagi kehidupan setelah Lumpur Lapindo menyembur. Mata hanya bisa melihat tanggul lumpur yang sangat tinggi dan luas. Jiwa hanya bisa marsakan bagaimana nasib korban yang sangat menyedihkan itu.
Lumpur Lapindo tak peduli siapa korbannya, berapa kerugian yang ditimbulkan dan bagaimana nasib mereka. Ia terus menyembur dengan liar. Bumi marah dan mengeluarkan seluruh isi perutnya karena ulah manusia tak bertanggung jawab yang mencoba mengais habis seluruh isi perut bumi.

Setelah lapangan pekerjaan mereka tenggelam dan menjadi pengangguran, kini warga korban lumpur disibukkan dengan melakukan berbagai aksi seperti demo dan menutup akses jalan. Semua itu mereka lakukan untuk meneriakkan hitamnya kehidupan mereka setelah adanya lumpur dan menuntut pihak lapindo segera mengakui mereka menjadi korban dan membayar ganti rugi atas kehidupan mereka yang porak-poranda.

Warga korban lumpur yang tinggal di Pasar Baru Porong (PASPOR) kini meratapi nasib mereka. Lingkungan PASPOR yang sangat berbeda dengan lingkungandesa, tempat tinggal mereka menjadi faktor utama berubahnya pola kehidupan yang tertanam sejak lama. Keluarga yang semula tinggal satu atap dengan keluarganya, kini harus berbagi tempat dengan keluarga yang lain. Mereka menjadi tidak bebas melakukan aktifitas mereka karena takut mengganggu keluarga yang lain.

Seperti yang dirasakan oleh Lilik Kaminah (32), warga Desa Renokenongo yang kini tinggal di PASPOR. Ia mengaku tidak adanya sekat antara kehidupan orang dewasa dan anak-anak membuat anak-anaknya tumbuh dewasa sebelum waktunya. Mereka menjadi liar dan sering mengucapkan kata-kata kotor. Selama tinggal di pengungsian, ia juga tidak bias memberikan pendidikan pada anak-anaknya dengan tenang.

“ Jangankan untuk belajar, untuk tidurpun, kami serba kesusahan, kalau malam begitu dingin, saat siang hari panas begitu menyengat. Apalagi disaaat musim penghujan, suasana di pengungsian kian bertambah memprihatinkan. Kami harus rela berbasah basah karena siraman air hujan tak mampu dinaungi oleh atap pengungsian Pasar baru Porong.” Terang kamina waktu itu.

Ia juga menjelaskan semenjak ia tinggal dipengungsian, tugasnya sebagai seorang istri tidak bisa berfungsi dengan baik.

”Aku tidak bisa memberikan pelayanan rohani kepada suamiku. Bagaimana aku harus melayani suamiku? Tidak ada sekat antara tempat tidur anakku dan aku beserta suami. Tugasku sebagai seorang ibu juga tidak optimal karena setiap kali aku ingin menemani anakku belajar, anakku selalu mengeluh tidak bisa berkonsentrasi karena situasi yang begitu ramai.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: