Pacarku Bukan Cinta Pertamaku


“Eh..turun dong!”

“Nggak ah! Enakan di sini!”

“Jangan curang gitu dong!” ucap Rara jengkel

“Ha..ha..ha! Awww……Sakit tau! Ntar gue jatuh!” kerikil kecil menembakinya dari bawah.

”Biarin! Kamu sih curang!”

”Curang apanya?”

”Udah cepet turun! Aku dah ngiler nih!”

”Ya..ya..nih aku mau turun! Ra tangakap buahnya!!”

”Ra siapa?” serentak kami bertanya.

”Maksudku Dara”

”Tumben manggil aku Dara?”

”Ehmmmm pengen aja!”

Satu persatu buah dijatuhkan dari ketinggian 3 meter. Tinggal satu buah lagi. Tapi ada yang janggal.

”Masih ijo kok kamu ambil sih?” tanyaku

”Udah tangkap aja! Cerewet!”

Plug….

”Awww……Ihhhhh rese’ banget! Awas lo!” ucapku sembari mengusap kasar dahi mulus ku.

Ternyata itu salah satu rencananya. Buah yang masih hijau itu bukan untuk dimakan tapi untuk membuat dahiku benjol.

Aku masih berumur 9 tahun. Kini aku mulai mengenal apa itu persahabatan. Setiap hari aku, Dodi, Zahra, dan Rara berkumpul di halaman belakang rumah ku. Nama kami berahkir dengan ”Ra”. Jadi jika da yang memanggil salah satu dari kami dengan sebutan Ra, kami selalu menjawab ”Siapa?” tapi Dodi selalu memanggilku Toto. Entah mengapa dia memanggil aku seperti itu.

Ada saja yang kami lakukan. Entah itu main petak umpet, jadi koki kecil juga beregelantungan di pohon belimbing yang letaknya di dalam rumahku. Buahnya sangat manis, jika telah masak, warna kuningnya menggoyahkan iman.

Tugas telah kami bagi, aku dan Dodi memanjat pohon sementara Zahra dan Rara berada di bawah untuk menangkap buah yang telah kami peroleh dengan baju yang mereka tarik ke depan.

Dodi selalu bilang bahwa pohon adalah tempat serbaguna. Katanya, di pohon kita dapat duduk santai dengan kaki yang bergelantungan, di pohon kita dapat merasakan sejuknya angin membelai setiap bagian tubuh dan di pohon juga kita tak akan kelaparan karena kita bebas mengambil berapapun buah yang kita mau.

Kali ini tugas berubah karena kami ingin menjadi koki kecil dengan mencoba membuat keripik bayam. Rara memetik bayam di halaman belakang, Zahra menyiapkan seluruh peralatan yang dibutuhkan, Dodi memanjat pohon sementara aku berada di bawah pohon menunggu Dodi menjatuhkan buah untuk ku tangkap.

Akhirnya Dodi mau turun setelah puas membuatku pusing sejenak. Aku segera berlari ke belakang untuk mencuci buah.

”Rara mana?” teriakku dari dapur.

”Nyari bayam!” teriak Zahra.

“Dimana?”

“Di belakang!” teriaknya kembali.

“Perasaan udah lama banget deh dia nggak ada.” ucapku dalam hati.

Aku mencoba untuk melihatnya.

“Rara!!!!!!!!!!!!!!”

“Ada apa to?” sahut Dodi panik.

“Ha..ha..ha… Kalian ketipu!!!” gertak Rara dan aku.

”Toto! ini nggak lucu!” ucapnya sambil memggoyangkan tubuhku dengan keras. Aku tahu kalau dia khawatir.
Raut wajahnya begitu serius hingga membuatku takut. Tapi aku mencoba untuk menyembinyikan rasa takut itu.

”Tapi bagiku ini lucu! Wleekkkk!”

”Ya udah balik ke dalam yuk!” ajak Zahra menatapku tajam.

Rara dan Zahra telah melangkahkan kakinya. Tapi ketika aku akan mengikuti mereka, Dodi menarikku.

”Kenapa?” tanyaku tak mengerti.

”Aku akan pindah!”

”Emang kenapa?”

”Elo nggak….Nggak..” ucapnya terbata-bata

”Enggak……..Udah ah. Aku laper pengen makan kripik bayam.” aku sengaja memotong perkataannya. Aku tak mau melihat wajah seriusnya menatapku dalam.

Aku meninggalkannya sendiri di kebun.

Setelah semua selesai kami mulai menyantap keripik hasil tangan kreatif kami.

Jujur, sebenarnya aku suka sama dia. Tapi aku malu untuk mengatakannya. Rara dan Zahra tak tau hal ini.
Mungkin juga dengan Dodi. Biarkan hanya aku yang tau.

Waktu terus berlalu. Tak terasa persahabatanku dengan Rara, Zahra dan Dodi bisa bertahan. Kini aku kelas 5 SD. Kami memilih sekolah yang sama.

Hari pertama masuk aku duduk di sudut kelas bersama Rara. Zahra duduk dengan teman barunya.
Sementara Dodi duduk dengan cowok bernama Ikbal.

Sebulan kemudian Dodi absen. Disurat tertulis izin.

“Izin? Izin kemana? Kok dia nggak bilang kalau mau keluar?” aku terus bertanya dalam hati.

Rara dan Zahra juga bertanya kepadaku kemana Dodi pergi. Hanya dua kata yang bisa ku beri

”Tak tau!”

Sepulang sekolah kulihat keluarga Dodi berkumpul.

”Tumben!” ucapku lirih.

Aku mencoba untuk mencari Dodi di rumahnya tapi sang ayah berkata kalau Dodi masih keluar. Aku terus menunggu. Sendiri…Rara dan Zahra pergi bersama orang tuanya.

Beruntung ayah Dodi, namanya Om Surya yang setia menemaniku dengan berbagai pertanyaan yang aku rasa itu konyol. Salah satu pertanyaan yang tak bisa ku lupakan adalah.

”Kamu suka Dodi?”

Seketika keringat dingin keluar dari kulit coklat ku.

”Kamu suka Dodi?”

Ia mengulangi pertanyaannya. Kali ini aku harus menjawab.

”Ah, Om bisa aja. Aku kan masih kecil. Kita Cuma temen.”

”Om tanya kamu suka Dodi?”

Lagi-lagi ia mengulang pertanyaannya.

”Ya…..ya nggak lah Om! Kan aku uda bilang kalau kita Cuma temenan aja!”

Dag..dig…dug…

Jantungku berontak karena aku telah bohong pada diriku sendiri.

”Hanya satu pesan Om. Jika kamu suka sama seseorang jangan dipendam. Utarakan! Meskipun pahit yang
kita terima tapi kita akan tau perasaan dia.”

”Tapi om….”

”Om dulu pernah kehilangan cinta pertama Om karena kesalahan Om sendiri. Om tidak mengungkapkan perasaan Om pada orang yang Om cintai. Dan sampai sekarang Om tidak bisa melupakan cinta pertama. Sampai saat ini Om masih merasa kehilangan. Dan ingat! Cinta pertama tak seperti pacar pertama.”

Aku tak mengerti dengan semua ucapan itu. Aku masih di bawah umur untuk mengetahui semua itu.

”Toto!”

Kulihat sosok yang melangkah ke arahku.

”Ya sudah Om tinggal ke dalam. Mau siap-siap.”

Akupun mengangguk.

”Kamu tadi nggak masuk kenapa?”

”Aku mau siap-siap!”

”Siap-siap? Emang mau kemana?”

”Aku mau keluar.”

”Kemana?”

”Jakarta.”

”Keluar ko’ jauh banget! Emang berapa hari?”

”Selamanya”

Air mata ku mulai mengambang.

”Kenapa nggak bilang dari dulu!”

Kini setetes air mata telah keluar membasahi pipiku.

”Dulu aku kan pernah bilang kalau aku akan pindah.”

”Aku kira kamu cuma bercanda!”

Ia mulai mengusap air mata ku.

”Kenapa nangis?”

”Diiiii…bantu angkat barang kamu!” teriak seseorang dari dalam.

”Aku ke dalam dulu yah!.”

Aku tak bisa berkata apa-apa.

Akhirnya aku berlari menuju rumah. Segera ku jatuhkan tubuhku pada kasur kecil di kamarku.

Apa hanya sampai disini perasahabatan kita?

Apa kamu akan kembali?

Semua pertanyaan itu ku ucapkan pada boneka Barbie pemberian Doni.

Brummmmmm……

Terdengar suara mobil dipanaskan.

Aku semakin menangis.

Tak sadar aku tertidur.

Aku terbangun ketika ibu menyuruhku untuk mandi.

Aku segera keluar dari rumah melihat rumah sebelah.

Sepi……………..

Semua telah pergi……….

Aku menyesal tak memberinya sepatah kata pun untuk keberangkatannya.

”Hati-hati di jalan.” ucapku dalam hati.

Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 8 malam. Aku harus segera tidur. Kalau tidak aku akan terlambat sekolah. Pintu kamar mulai tertutup. Lampu telah dimatikan. Bantal dan guling telah menungguku.

Ahhhhhhhhhh…………….

Mataku mulai tertutup. Kucoba untuk tak mengingat kejadian siang tadi.

Tok..tok..tok…

”Dara! Bukain pintunya nak! Ini ibu!”

Aku segera bangkit. Membuka pintu yang telah terkunci.

Ibu menyodorkan amplop warna hijau. Warna kesukaan ku.

”Dari siapa bu?”

Tapi ibu segera pergi memberiku senyum selamat malam tanpa menjawab pertanyaanku.

Klik…

Kuhidupkan kemballi lampu kamar.

Perlahan kubuka amplop berwarna hijau muda itu.

”Hey..ni aku Dodi. Tadi aku ke rumah kamu, tapi ibu kamu bilang kamu agi tidur. Aku nggak mau ganggu tidur kamu. Jadinya aku nulis surat ini. Aku nggak akan pernah melupakan persahabatan kita. Salam ke Zahra dan Rara yah! Aku pasti kembali kok :)”

Saat istirahat, kutunjukkan surat itu ke Rara dan Zahra.

”Dia akan kembali.” ujar Zahra.

”Semoga aja.” lanjut Rara penuh harap.

”Aku akan terus berharap dia akan kembali.”

3 tahun sudah aku menanti kedatangannya. Kini aku duduk di bangku kelas 2 SMP.

Perlahan hatiku tertambat pada teman sekelasku.

Namanya krisna. Dia anak yang pintar.

Badannya tinggi kurus.

Wajahnya tak begitu tampan. Tapi banyak teman ku menaruh hatinya.

Aku heran mengapa hingga kini dia tak memiliki pacar. Padahal semua temannya telah memiliki pacar.
Teman-temannya sering menyindirnya apalagi Antonio, teman dekatnya. Meskipun Antonio berkulit hitam dan gendut, tapi ia bisa menaklukkan hati cewek dengan sikapnya yang penuh kasih sayang. Apalagi terhadap lawan jenis.

Aku semakin dekat dengan Krisna ketika guru Bahasa Inggris yang memintaku untuk masuk dalam kelompoknya. Tugas yang diberipun tak jadi masalah bagiku karena ada Krisna disampingku. Antonio juga selalu masuk dalam kelompokku. Untung saja nggota kelompok dipilih sendiri oleh siswa. Jadi kami bebas pilih siapapun asal yang kita pilih mau.

Tiba-tiba aku iri dengan Zahra dan Rara yang telah mempunyai pacar. Aku merasa sudah saatnya aku membuka hati.

Tapi aku tak boleh suka padanya. Aku harus menunggu Dodi! Aku ingin dialah yang menjadi cinta pertama dan pacar pertamaku. Bukan orang lain.

Semakin lama aku semakin dekat dengan Krisna.

Rara dan Zahra tahu kalau aku menyukainya. Mereka juga setuju kalau suatu saat aku menjadi pacarnya.

Sepertinya Krisna juga menaruh hati padaku. Bukannya kepedean sih! Tapi memang terlihat sekali dari tingkah lakunya yang selalu menghampiriku ketika bel istirahat telah berbunyi.

Tapi apa mungkin aku yang terlalu GR?

Kebiasaannya menghampiriku setiap istirahat itu mungkin memang ada perlu.

Dia juga sering memintaku untuk masuk dalam kelompoknya setiap ada tugas kelompok.

Dia juga sering membelikan aku Es Cincau, minuman kesukaanku.

Kalo udah gitu gimana?

Tapi mungkin dia pikir akulah yang pantas masuk dalam kelompoknya. Aku yang notabene memang suka cuap-cuap, selalu jadi penyaji di setiap presentasi.

Aku tetap yakin kalau sebenarnya dia ada sinyal padaku. Rara dan Zahra juga berkata demikian.

Sebenarnya aku tak ingin memberi sinyal positif padanya, tapi karena Dodi yang tak kunjung datang, membuatku berfikir bahwa dia tak ingat lagi padaku.

”Mana janjimu yang akan kembali?” tanyaku dalam hati.

Persahabatanku dengan Rara dan Zahra semakin erat. Tapi bagaimana persahabatan kami dengan Dodi?

Tet…..tet….

”Alhamduliilah istirahat!” Aku bersyukur karena bunyi bel telah menolongku dari pelajaran Bahasa Inggris yang kali ini menurutku sangat sulit.

Kini aku, Rara dan Zahra menuruni satu persatu anak tangga yang ada. Maklum, kelasku berada di lantai 2.

”Ra!” kami menoleh ke asal suara.

”Maksudku Dara!”

”Ooo…Dara? Ya udah. Kita duluan yah!” pamit mereka berdua pada ku.

”Lho! Kalian mau kemana?” tanyaku sambil menarik Rara.

”Udah! Kita nggak mau ngganggu kalian berdua.”

”Apaan sih!” ucap ku sedikit malu.

Mereka berdua akhirnya benar-benar meninggalkan aku sendiri bersama Krisna.

Ia menghampiriku. Aku masih diam di tempat.

Tak sepatahkata pun yang keluar dari bibirku.

”Ra. Bisa ngobrol bentar nggak?” tanyanya padaku.

Dug!!

Detak jantungku semakin cepat.

Pasalnya, tak biasanya Krisna mengajakku aku untuk mengingobrol hanya berdua dengannya. Kecuali saat belajar kelompok. Itupun yang kami bahas masalah pelajaran.

Sembari menuruni ana tangga satu per satu, Krisna meberikan pertanyaan padaku agar aku buka mulut.

”Ra! Tadi kan kita dapet PR Bahasa Inggris.”

”He’e. Trus kenapa?”

”Aku nanti ke rumah kamu yah!”

”Ngapain?”

”Ya mau ngerjain PR lah! Masak mau PDKT (Pendekatan).”

Haah…. aku sedikit salting!

Aku tersenyum kaku.

”Bukannya kamu bisa ngerjain PR sendiri?”

”Tapi kali ini aku nggak mau sendiri.”

”Kok gitu?”

”Boleh nggak aku ke rumah kamu?”

Entah mengapa, tiba-tiba mataku tertuju pasa sosok yang berdiri di depan ruangan Kepala Sekolah.

”Cowok yang berdiri di depan kantor itu!” ucapku tak percaya.

”Siapa?” tanya Krisna padaku.

”Eh. Nggak. Aku ke Rara dulu yah!” pamitku padanya.

Ia hanya tersenyum.

Aku tak sadar kalau sikapku menyakitkan hatinya.

Sekilas aku menoleh ke arahnya sambil tersenyum.

”Sebentar yah!” ucapku tanpa suara.

Ia mengangguk.

Aku menoleh lagi ke arahnya, tapi kulihat ia telah gabung dengan teman-temannya.

”Ah… biarin deh.” ucapku pelan.

Aku segera mencari keberadaan Rara dan Zahra.

Setelah kutemukan mereka, aku segera menarik lengan mereka berdua.

”Woi..Woi..Tunggu dulu!” ucap Rara heran.

”Eh! Pelan-pelan dong.” protes Zahra padaku.

”Udah jangan banyak omong. Ikut aku!” perintahku seperti majikan.

Kulihat sekitar, Krisna sudah tak ada.

”Kalian liat cowok di depan ruangan Kepala Sekolah itu nggak?” tanyaku pada mereka berdua.

”Mana?”

”Itu! Yang pakai tas hijau!”

”Itu kan!” ucap Rara sambil melentikkan jari manisnya.

”Dodi!” jawabku mantap.

”Ya, itu kan Dodi! Tuh kan dia nggak bohong! Dia kembali Ra! Kembali untuk kita!” Zahra terlihat begitu
senang melihat kedatangan sahabat kecilnya.

Aku juga sangaaatttttttttt senang! Tapi aku tak boleh over!

Dodi tak jua melihat kami bertiga yang tak jauh darinya.

”Dodi!” teriak Zahra.

Ia hanya melihat sekilas ke arah kami.

”Kok dia nggak senyum atau melambaikan tangan gitu?” tanya Rara pada ku.

Rara memanggilnya lagi tapi tak ada respon.

Aku menghampirinya.

”Dodi!”

Ia menoleh ke arahku sambil tersenyum tapi hanya sebentar karena Kepala Sekolah memanggilnya.

Rara dan Zahra menghampiriku.

Aku hanya menggeleng.

Tapi aku sedikit lega karena bisa melihat senyumnya kembali.

Penantianku selama ini tak sia-sia.

Aku bisa melihatnya lagi.

Esoknya, aku mendapat kabar kalau Dodi memilih untuk tinggal di kelas 1.

Aku semakin bingung. Kenapa dia memilih di kelas 1? Bukannya kita seumuran? Di kelas 2 kan ada aku,
Rara dan Zahra? Kita kan sahabatnya?

Sepulang sekolah, kami mencari informasi dari anak kelas 1 dan juga para guru.

Sore hari kami berkumpul di rumah Zahra.

Aku dan Rara tak mendapat informasi apapun. Tinggal Zahra harapan kami.

” Aku dapat kabar dari Ikbal, katanya Dodi milih tinggal di kelas 1 karena di kelas 2 nggak ada yang dia kenal.”

”Maksudnya?” tanyaku agak marah.

”Apa nggak punya temen! Kita apanya?” timpal Rara sebal.

”Mungkin dia udah lupa sama kita!” ucapku pelan.

”Amnesia kali dia!” Rara semakin sebal.

”Hus! Jangan gitu dong!”

Waktu terus berlalu. Doni tak juga memanggil atau menyapa kami.

Aku semakin bingung.

Akhirnya aku memutuskan untuk mengatakan pada Rara dan Zahra kalau sebenarnya dari dulu aku suka sama Dodi. Mereka tak heran ataupun marah. Mereka telah mengetahui hal itu sejak dulu. Tapi mereka tak mau menanyakan hal itu padaku atau Dodi.

Walaupun mereka belum tua, mereka memberiku petuah yang menurutku bermanfaat juga sih!

Kami mengikuti eksskul pramuka. Begitupula dengan Krisna dan Dodi.

Setiap eksskul kami selalu mencuri pandang ke Dodi. Tapi tak ada respon sama sekali darinya.

”Oh tuhan! Apakah dia benar-benar lupa padaku?” tanyaku dalam hati.

Waktu tak bisa kuhentikan. Dia terus berjalan. Selama bumi masih berputar pada porosnya aku tak bisa menghentikannya meskipun dengan magnet yang kuletakkan di sisi barat dan timur bumi. Sebesar apapun magnet itu lahi-lagi tak bisa kuhentikan.

Dua hari lagi aku akan merayakan kelulusanku, tapi Dodi tak juga menyapa atau memberi senyum padaku.

Untuk merayakan kelulusan itu, anggota pramuka mengadakan Persami di lereng Gunung Kelud.

Persami ini tak hanya untuk kelas 3, adik kelas yang mengikuti eksskul diperbolehkan ikut asalkan mendapat
izin tertulis dari orang tua.

Jam 7 pagi, 5 buah bis sudah parkir di depan sekolahku. Kami semua memasuki ruangan untuk mendengarkan arahan dari pembina.

Sepasang mata rupanya melihatku dengan pandangan tak senang. Aku hanya memberinya seyum pahit. Dia adalah Dina, salah satu anak yang menyukai Krisna. Aku tak tahu maksud dia memandangku seperti itu. Rara dan Zahra mengetahui hal itu.

”Mungkin dia ngiri sama kamu!” ucap Rara sembari mencubit janggut lancipku.

”Iri kenapa?”

”Dia kan suka ma Krisna!” terang Rara.

”Tapi Krisnanya malah ngasi perhatiannya ke kamu.” Zahra menambahkan.

Kini semua peserta diharuskan memasuki bis. Kami diberi kebebasan untuk memilih tempat dan teman sebangku.

Aku duduk dengan Rara. Sementara Zahra dengan Citra, adik kelas yang sangat pintar dan manis.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, kami sampai di lereng Gunung Kelud.

Udara dingin menyambut kedatangan kami.

Lekas kami mendirikan tenda karena hari hampir gelap. Kebetulan aku yang menjadi ketua regu di kelompokku. Rara dan Zahra masuk dalam kelompokku.

Dina juga menjadi ketua di kelompoknya. Begitu juga dengan Krisna.

Malam telah datang. Api unggun telah dinyalakan. Kami duduk membentuk lingkaran. Setelah lama mendengarkan siraman rohani dari pembina, permainan pun dimulai. Dalam permainan ini hukuman yang di berikan ialah menyanyikan sebuah lagu jika bola yang di oper dari satu anak ke anak yang lain berhenti.

Oh tidak! bola itu berhenti tepat dalam genggamanku. Karena tak mau diangap curang, aku terpaksa harus bernyanyi. Untung saja judul lagunya terserah. Aku memilih untuk menyanyikan lagu ciptaan Melly Goeslaw yang judulnya Ku Bahagia tapi aku tak meneruskan lirik itu.
Semua yang ada dalam lingkaran itu memandangku, menunggu untuk melanjutkan lirik selanjutnya.

”Kak! Boleh ganti lagu kan?” tanyaku pada salah satu kakan pembina. Mereka menyetujui.

”Semua Tentang Kita” lagu yang dipopulerkan oleh Peterpan ini sengaja ku pilih untuk mengingatkan Dodi.

Mulanya sih aku sangat gugup.

Aku memandang ke arah Dodi lalu kumulai melantunkan lirik ini.

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati
Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama
Saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
saat kita berduka
saat kita tertawa
teringat disaat kita tertawa bersama
ceritakan semua tentang ita

Setelah selesai mengeluarkan suara emasku (Cyeee) semua memberi oplos. Kecuali Dina yang terkesan terpaksa menepukkan kedua tangannya.

Tanganku gemetar.

Rupanya Rara dan Zahra mengerti maksudku.

Mereka memelukku.

Malam semakin larut.

Masing-masing ketua regu harus mengabsen kelompoknya.

Setelah itu kami disarankan untuk masuk ke tenda masing-masing karena malam semakin larut ditambah dengan udara yang semakin dingin.

Kulihat yang lain sibuk mempersiapkan perlengkapannya untuk menyambut mimpi malam di lereng gunung.

Entah mengapa aku ingin ke kamar mandi.

”Ra!” mereka berdua menoleh ke arahku.

”Anterin aku ke kamar mandi dong!”

”Ihhh…nggak ah! Gelap.” tolak Zahra yang memang takut dengan kegelapan.

”Kamu Ra?”

”Sory! Aku nggak bisa Ra! Jalannya kan turun banget. Nanti kalau aku jatuh terus kepeleset terus…”

”Ahhhh…udah deh! Diem! Biar aku turun sendiri aja.”

”Jangan Ra! Mendingan minta tolong ke kakak pembina.”

”Nggak mau! Terlalu banyak aturan!”

”Yahhh itu kan uda tugas mereka buat jagain kita. Jadi harus dibuat aturan. Untuk keselamatan kita sendiri kan!”

”Yaudah terserah kalian. Tapi kalian yang ngijinin yah!” ucapku manja.

Mereka mengangguk kemudian pergi.

5 menit berlalu, mereka tak juga kembali.

”Udah minta tolong ke kakak pembina?” tanyaku begitu mereka kembali.

Mereka mengangguk mantap. Aku pun keluar.

Betapa terkejutnya aku ketika melihat Krisna berdiri di hadapanku.

”lho! kok dia?” bisiku pada mereka seraya mencubit perut mereka dengan keras.

”Aww!” umpat Zahra menahan sakitnya.

”Udah sana! Katanya kebelet! Nanti malah keluar di sini.”

”Kakak pembinanya mana?”

”Kata mereka minta tolong ke anak laki-laki aja. Ya udah!”

”Kenapa harus dia?” bisikku pada mereka berdua.

Mereka lantas mendorongku. Hampir aja aku jatuh! Jika Krisna tak menarikku.

”Krisna! Anterin aku ke kamar mandi dong!” suara manja itu tak asing ditelingaku.

Dina!

Dia menarik tangan Krisna dengan manja.

”Aduh gimana yah! Maaf banget Din. Aku udah duluan janji nganterin Dara.”

”Ayo dong Kris!” Pintanya manja. Dia terus bergelantungan di tangan Krisna.

Aku hanya diam. Begitu juga dengan Rara dan Zahra.

Kami saling berpandangan dengan senyum kecut melihat tingkah Dina.

Dengan halus Krisna melepaskan pegangan Dina.

”Gimana kalau kamu gabung kita aja? Kebetulan aku sama Krisna juga mau ke kamar mandi. Ya nggak Kris?” tawarku dengan gaya yang kubuat-buat. Aku sengaja melakukan hal itu. Aku ingin melihatnya kebakaran jenggot.

Dia memandangku tajam plus kesal plus mata menyala dan plus-plus yang lain. Pokoknya dia terlihat sebel banget.

”Gimana?” tanyaku padanya.

”Nggak usah deh!” jawabnya ketus seraya pergi.

Dalam hati aku tertawa puas. Rara dan Zahra mungkin juga tertawa puas, mantap dalam hati melihat cewek norak itu ngeluyur pergi dengan wajah merah.

Sepanjang perjalanan aku hanya diam. Tak tahu apa yang harus aku katakan.

”Besok ikut jelajah hutan nggak?” Krisna membuka pembicaraan.

”Ya ikut lah! Kalau nggak kan aku sendirian di tenda.” jawabku terbata-bata. Tak mulus seperti waktu ada
Dina diantara kami.

Entah mengapa ku mersa gugup. Padahal setiap harinya ku juga sering bicara dengannya.

Tapi kali ini sungguh berbeda. It’s Very Different.

He…he..he..

Sekali-kali pake bahasa Inggris kan nggak apa-apa.

”Nggak takut?”

”Ngapain mesti takut?”

Kami saling melempar senyum.

Hanya kegelapan saat itu yang ku lihat. Seberkas sinar dari lampu senter yang menerangi jalan setapak.

Jalan begitu menurun. Sesekali aku hampir terjatuh.

Untung ada Spiderman didekatku yang dengan sigap menarikku.

Tapi ini Spidermen keluaran terbaru. Spiderman yang bodinya ceking!

Ups sory Kris!

”Kalau jalan hati-hati.” ingatnya padaku.

”Iya! Jalannya turun banget. Kalau aja Dina ikut. Pasti aku nggak sendirian!”

”Kok sendirian? Kan ada aku?”

”Kamu? Nggak enak lah Kris. Kalau ada Dina kan aku bisa pegangan dia biar nggak jatuh.”

”Pegangan aku aja.”

”Menurut kamu Dina gimana sih?” tanyaku menyelidik. Rasa gugup itu seketika hilang.

”Maksudnya?”

”Alah! Jangan sok nggak tau deh!”

”Dina itu.. apa yah???” menimang senter di tagannya.

”Anaknya pintar.” lanjutnya.

”Cuma itu aja?”

”Emang kenapa sih? Cemburu?”

Deg! Jantungku berhenti berdetak.

”Napa mesti cemburu? Orang aku cuma nanya aja.”

”Ngaku aja deh!” godanya padaku.

”Apaan sih! Udah deh.”

”Akhirnya sampai juga.” Syukurku dalam hati.

Kulihat banyak anak yang mengantre di depan kamar mandi.

Kakak pembina juga terlihat asik dengan yang lain.

Aku memilih untuk duduk sejenak sambil meluruskan kakiku yang mulai copot.

Tak kulhat Krisna disampingku. Dia menghilang entah kemana.

Aku sedikit resah.

Mataku mulai menyusuri seluruh yang ada.

”Dodi.” ucapku lirih. Tanpa tersa air mata mulai menggenangi mata sipitku.

”Apa yang terjadi padamu?”

”Apa kamu memangb sudah tak ingat lagi padaku?”

”Dodi! Lihatlah aku!”

Berbagai pertanyaan muncul dibenakku.

Aku menundukkan kepalaku. Takut jika seseorang melihatku sedang menangis.

Apa yang harus aku lakukan?

Apa aku harus menghampirinya dan berkata,

”Hei Dodi. Gimana kabarmu?”

Ah! sungguh tak wajar.

Kenapa tidak dari dulu saja aku melakukan hal itu?

Atau aku harus bertanya,

”Hei, masih ingat nggak sama aku?”

Dan aku rasa pertanyaan itu sungguh konyol.

Jika memang dia mengingatku mengapa dari dulu dia tak menyapaku? Padahal kelasnya berada di samping kelasku.

Aku tak dapat lagi membendung air mata ini.

Switer ku basah.

Aku semakin kedinginan.

Dodi sedang asik mengobrol dengan Ika.

Aku semakin terpukul.

Jujur saja aku cemburu. Aku iri melihat orang lain yang begitu enjoy berbicara dengannya.

Kenapa bukan aku saja yang seperti itu?

Tuhan! Tolonglah aku.

Aku memang suka dengan Krisna. Tapi aku cinta dengan Dodi. Dia cinta pertamaku.

Perkataan Om Surya, terlintas di benakku.

”Jika kamu suka sama seseorang jangan dipendam. Utarakan! Meskipun pahit yang kita terima tapi kita akan tau perasaan dia.”

Yah! Itulah yang ia katakan padaku.

Dan aku sangat menyesali hal itu.

Andai aku bisa memutar waktu.

Aku menyesal.

”Aku harus menghampirinya!” ujarku bimbang.

Aku berdiri.

Sedikit demi sedikit kulangkahkan kakiku ke arahnya.

Beberapa langkah lagi aku akan samapai dihadapannya.

Ia tak juga melihatku.

3 langkah lagi akau akan sampai.

Jantungku semakin berdebar.

Entah apa yang akan terjadi.

Apakah aku akan malu karena mengaku mengenalnya sedangkan ia tak mengenalku?

Ah! Biar saja. Apapun yang terjadi aku harus tetap maju.

Aku harus tau apa yang terjadi.

Aku tak tahan. Aku ingin menyadarkannya kalau memang ia terserang amnesia seperti yang diungkapakan Rara dulu.

Aku telah berdiri tepat di sampingnya.

Begitu cepatnya degup jantungku hingga serasa mau copot.

Sejenak aku terdiam.

Semua kata-kata yang telah aku susun dengan rapi hilang seketika.

Aku bingung.

Udara dingin ditambah keringat dingin yang keluar dari kulitku serasa menusuk hingga tulangku.

Aku seperti mati berdiri.

Aku layaknya mayat hidup.

Tak percaya aku akan melakukan hal ini.

”Hai!” ucapku gemetar dengan senyum yang kupaksakan.

Dia, Dodi menoleh ke arahku. Begitu juga dengan Ika.

Ika menatapku seperti melihat menu makan malamnya.

Oh Tuhan! Apa yang harus aku lakukan.

”Ra!” teriak seseorang dari kejauhan.

Ternyata Krisna.

Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.

”Kamu ngapain disini?”

”Aku…aku…”

”Katanya mau kemar mandi?”

”Iya.. tapi…”

”Kamar mandinya kayaknya udah kosong tuh!” ia berbalik, menatap lekat ke arah Dodi.

Mau tak mau aku harus mengikutinya.

Ia memperlambat langkahnya. Mensejajarkan langkahnya denganku.

”Tadi siapa?”

”Siapa?”

”Yang tadi kamu ajak ngobrol.”

”Oh tadi? Dia..dia.. eh aku masuk dulu yah!” pamitku mengelak dari pertanyaan yang kurasa berat untuk ku
jawab.

Dalam kamar mandi aku terdiam.

Aku mengingat kembali semua masa lalu yang pernah kulai dengannya. Dodi, sahabat kecilku plus cinta pertamaku. Aku rindu dengan panggilan Toto yang selalu ia ucapkan. Aku rindu dengan senyum nakalnya. Aku rindu dengan candatawanya. Aku rindu segalanya.

”Tok..Tok..Tok! Mbaknya tidur yah? Lama banget!”

Suara itu membuyarkan lamunanku.

Aku segera membuka pintu dan keluar tanpa sadar aku belum buang air.

”Langsung balik atau gimana?” tanya Krisna begitu aku keluar.

”Langsung balik aja yah!” jawabku singkat.

”Tunggu bentar Ra!” pintanya sambil berlari ke arah penjual jagung bakar.

”Kok cepet?” tanyaku dengan degup jantung yang mulai stabil.

”Tadi aku udah pesen jadi tinggal ngambil.”

”Nih punya kamu yang pedas.”

Aku meraih jagung bakar pemberiannya.

Aromanya sangat sedap dan pasti rasanya seenak aromanya.

”Kok tahu kalau aku suka pedas?”

”Ya tau lah!” jawabnya cuek.

Kulihat sosok disampingku ini.

”Krisna! Aku suka kamu. Tapi aku tidak cinta kamu!” ucapku dalam hati.
Akhirnya sampai juga di tendaku.

Masih banyak anak yang belum masuk ke tendanya.

Kakak pembinapun juga terlihat asyik dengan api unggun di depannya.

”Nggak mau gabung?” tanya Krisna padaku.

”Boleh juga.”

Aku dan Krisna segera bergabung duduk mengitari api unggun.

Kulihat Rara dan Zahra keluar dari tenda.

Segera ku panggil mereka.

”Ra!” teriakku sambil melambaikan tanganku. Berharap agar mereka melihatku.

Krisna juga melakukan hal yang sama.

Mereka berdua tak juga melihatku.

Kupikir mereka memang tak mendengar panggilanku karena suasana yang ramai.

Kami bernyanyi bersaama. Hingga larut malam.

Pagipun tiba.

Kami segera bersiap untuk acara selanjutnya.

Yah! Kali ini kami akan menjelajahi hutan dan bermain arum jeram.

Tongkat dan segala perlengkapan telah melekat di badanku.

Kami harus berjalan dengan kelompok masing-masing.

Kulihat sungai dengan airnya yang jernih dengan bebatuan besar yang menungguku melewatinya.

Aku, Rara dan Zahra harus berpisah karena kelompok kami harus dibagi dan bergabung dengan kelompok lain sesuai instruksi dari kakak pembina.

Ternyata aku harus bergabung dengan Dina dan Ika, dua orang yang memang sangat membenciku.

Dina selalu mencari gara-garadenganku. Mungkin dia iri karena aku dekat sekali dengan Krisna. Sesuai gosip yang beredar, Dina menyukai Krisna.

Ika juga menaruh dendam padaku karena dia tahu kalau aku suka dengan Dodi. Anak yang juga dia sukai.

Mengapa hari ini aku begitu sial?

Pertama aku digigit ular yang untung saja bisa tidak mematikan. Aku segera diberi pertolongan pertama. Dan otomatis perjalanan harus dihentikan sejenak.

Kedua aku harus bergabung dengan Dina dan Ika. Entah apa yang akan terjadi nanti. Aku sendiri. Tanpa Rara dan Zahra.

Lalu nanti apa lagi yang akan terjadi padaku?

Apa aku akan jatuh saat arum jeram?

Apakah Dina dan Ika telah merencanakan sesuatu untukku? Sesuatu yang membuatku celaka?

Kulihat Krisna juga bergabung dengan Dodi.

Mereka terlihat akur.

Aku senang sekali.

Kini aku akan mengarungi sungai yang aku sendiri tak tahu dimana unjungnya.

Kelompok 1 telah berangkat. Dilanjutkan kelompok berikutnya. Dan sekarang giliran kelompokku.

Ika dan Dina duduk di samping kiri, sementara aku dan Citra duduk di samping kanan.

Kami semua berteriak bersama dengan arus air yang semakin gila. Air yang mengalir begitu keras.

Sesekali kami hampir oleng tapi segera diimbangi oleh kakak pembina.

Untung saja tidak ada yang menimpaku.

Aku terlalu berburuk sangka kepada Ika dan Dina.

Aku kembali dengan selamat. Aku sangat bersyukur.

Kami akan pulang.

Segalanya telah siap.

Kami semua telah berda di dalam bis.

Zahra tak lagi duduk sebangku denganku. Dia duduk dengan Rara.

Tiba-tiba Krisna menghampiriku.

”Duduk sama siapa?” ia berdiri dengan tangan tangan yang bersandar pada kursi.

”Tadinya sih sama Zahra. Tapi dia malah duduk sama Rara.”

”Berarti kosong dong?”

”Ntar juga ada yang ngisi.kenapa?”

”Kalau nggak ada yang ngisi ntar jadi bangku kosong. Ihhh! Kan serem”

”Krisna! Krisna! Kamu tuh bisa aja yah!”

”Kalau aku duduk di sini boleh nggak?”

”Kalau nggak boleh gimana?”

”Ya aku tetep duduk!”

”Kok gitu?”

”Karena semua tempat duduk udah penuh.”

Aku berdiri dan kulihat satupersatu tempat duduk. Semua telah terisi.

”Jadi gimana?”

”Dengan terpaksa aku ijini kamu duduk di sini.”

”Biarin deh. Terpaksa atau nggak aku senang karena akhirnya aku bisa duduk. Daripada berdiri. Ya nggak?”

Kami saling melempar senyum.

”Krisna!” salah satu kakak pembina memanggilnya.

”Ya kak!”

”Kamu sudah dapat tempat duduk?”

”Sudah kak!”

”Ya sudah cepat duduk. Bentar lagi mau jalan”

Krisna mengangguk.

Sepanjang perjalanan kami menyanyikan lagu-lagu pramuka.

Terlihat Dina yang sedang membagikan sesuatu pada anak-anak.

Aku tak peduli apa yang dilakukannya.

Aku asik dengan pemandangan luar yang sungguh indah.

”Aduh Dara! Sory banget yah! Makanannya udah abis. Ni tinggal satu. Buat Kamu aja deh Kris!” ucapnya begitu sampai di tempat dudukku.

”Emang aku peduli dengan makanan yang kamu bawa? Aku malah beruntung nggak dapet makan dari kamu.
Mungkin saja ada racunnya.” umpatku dalam hati.

”Nggak usah Din! Aku udah kenyang.” Krisna mengembalikan makan itu.

”Nggak papa kok Kris! Mungkin aja nanti kamu laper!” dia terus membujuk Krisna.

”Ya sudah sini!”

”Makasih banget yah Kris mau nerima makanan dari aku. Itu aku sendiri lho yang bikin. Pasti enak.” suaranya membisingkan telinga.

”Ra! Nih buat kamu! Katanya tadi laper!” Krisna menyodorkan makanan itu padaku.

”Lho itu kan huat kamu Kris!” tanya Dina sewot.

”Iya. Tapi kayaknya Dara yang lebih butuh. Soalnya tadi dia bilang laper.”

Kulihat Dina berbalik dengan wajah penuh amarah.

Aku tertawa puas dalam hati.

Bus berhenti di halaman sekolah. Ternyata kami telah sampai.

Sebelum kami kembali ke rumah, kami diharuskan masuk kelas masing-masing karena ada sedikit petuah yang ingin Kepala Sekolah sampaikan.

Setelah selesai, kami keluar dengan segudang barang yang bergelantungan di badan.

Zahra telah di jemput kedua orang tuanya. Hanya aku dan Rara yang berdiri di pojok pagar menanti jemputan.

”Ada yang lagi seneng nih!” cletuk Rara tiba-tiba

”Siapa Ra?”

”Kamu.”

”Aku?”

”Nggak usah belagak bego deh! Krisna tadi kan duduk sama kamu?”

Jujur aku memang senang. Tapi entah mengapa ada rasa malu untuk mengatakannya.

Dalam hati kecilku aku menyukainya. Tapi dibenakku aku terus berkata ”Aku mencintai Dodi.”

Maafkan aku Krisna. Kenapa kau harus suka denganku? Dan mengapa harus ada rasa yang lain dihatiku saat dekat denganmu?

”Dijemput siapa?” sapa Krisna pada kami. Rara menjauh dua langkah dariku sambil memandangku genit.

”Eh Krisna. Gimana perjalanannya tadi? Pasti enak dong.” sapa Rara pada Krisna sementara aku diam.
Gimana nggak diam, orang mau nyapa Krisna, eh… keduluan Rara.

”Enak apanya? Orang sepanjang perjalan Dara tidur mulu. Jadinya nggak ada yang bisa diajak ngobrol deh.”

”Masa’ sih? Bangunin dia dong.”

Sementara Rara dan Krisna berbicara. Aku hanya diam sambil tengok kanan tengok kiri. Berharap ayahku segera datang menjemputku.

”Sariawan neng?” tanynya padaku.

”Nggak.” jawabku memperlihatkan senyum termanisku.

”Kok diem aja?”

”Dia gerogi kali Kris!” sahut Rara sebelum ia meninggalkanku dan Krisna berdua karena sang ayah telah
menjemputnya.

”Di jemput siapa neng?”

”Di jemput ayah kang mas!”

”Udah jam segii kok ayah kamu belum jemput?”

”Kamu nggak pulang?” Aku malah balik bertanya.

”Nunggu kamu.”

”Kenapa mesti nunggu aku? Oya Kris. Aku mau ngomong.”

”Ngomong aja. Bukannya dari tadi kita ngomong?”

Kali ini aku harus mengungkapkan yang sebenarnya sebelum aku membuatnya sakit hati.

Aku seorang remaja. Aku mempunyai perasaan dan aku tahu bagaimana perasaan dia ke aku.

Dari cara bicaranya. Dari tingkah lakunya dan dari semuanya.

”Krisna! Aku serius nih.”

”Yaudah ngomong apa.”

”Kamu pernah nggak suka sama seseorang?”

”Pernah. Kenapa?

”Terakhir kali kapan?”

”Sekarang. Emangnya kenapa sih!”

”Jawab jujur yah!”

Ia mengangguk dengan senyum yang menambah ketampanannya.

”Boleh tau nggak siapa orangnya?”

”Siapa yah?”

”Ayo dong Kris. Kalo kamu nggak mau jawab….”

”Kalo nggak emangnya kenapa?” sahut Krisna segera hingga aku tak bisa melanjtkan kata-kataku.

Jantungku berdebar.

Hari ini harus aku katakan yang sebenarnya.

Sekali lagi maafkan aku Krisna.

”Dara! Gimana Persaminya?”

Rupanya ayahku.

”Ya udah. Jawabnya besok aja yah! Tuh ayah kamu udah jemput.” Krisna menyuruhku untuk segera menghampiri Ayahku.

”Tapi besok kan libur?”

”Kapan-kapan deh!”

Kulangkahkan kaki menghampiri ayah. Kuucapkan salam sambil kucium tangannya.

”Seru banget Yah. Ayah. Dara pengen ngomong bentar sama krisna bolehkan?”

”Besok aja ya sayang. Soalnya Ibu sudah nunggu kamu dari tadi.”

Akhirnya aku menuruti perkataan Ayah.

Lagi dan lagi aku tak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Krisna. Memang aku menyukainya, tapi hati ini tak bisa. Sepertinya ada magnet yang sangat besar di hati ini hingga membuat aku tak bisa melupakan Dodi.

Hingga aku lulus, Dodi tak juga mengucapkan sepatah katapun padaku.

Aku tak boleh terus memikirkannya. Yang harus ku pikirkan ialah masadepanku.

Suatu saat aku harus menunjukkan pada semua orang kalau aku bisa menjalani hidup tanpa bayang-bayang Dodi. Si pengingkar janji.

Pegal, ngantuk jadi satu. Kali ini aku sengaja bangun siang.

Alarm jam memekakan telinga, tapi aku tak juga terbangun. Aku masih terlelap dalam tidurku.

Kata petua, mimpi adalah bunga tidur. Aku tak tahu apa arti mimpiku itu. Yang kulihat aku sedang berda di atas pohon yang sangat tinggi. Tak ada seorangpun di pohon itu. Dibawah juga sepi. Aku ingin berteriak ketika melihat seorang yang tiba-tiba mendorongku. Tapi bibirku serasa terkunci. Aku tidak bisa berteriak untuk meminta tolong. Suaraku hilang entah kemana.

Aku terjatuh dari ketinggian yang luar biasa. Aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi padaku. Apakah aku akan mati?

Ku pejamkan mataku.

Bugh……

Kini, aku benar-benar terjatuh. Terjatuh dari tempat tidurku. Badanku mencium lantai.

Ugh…. Sakit banget.

Pegal yang kurasakan bertambah pula.

Tapi mungkin ini teguran tuhan agar aku terbangun dari tidur panjangku.

Adzan dhuhur hampir berkumandang. Aku melirik jam dinding malas.

Aku segera menuju kamar mandi. Bukan untuk mandi, tapi hanya sekedar cuci muka.

Perutku sudah memberikan sinyal agar segera mengisinya.

Rupanya Tempe Penyet telah menantiku di meja makan.

Seperti orang kesetanan, ak melahap semua makan yang ada.

Setelah kenyang. Aku kembali ke kamar.

Aku baru sadar kalau di rumah tak ada orang.

”Kemana semua?” tanyaku sambil meraih bantal.

Aku kembali bangkit dan menyalakn TV.

Secarik kertas terjatuh ketika aku mengambil remote.

Kuambil kertas itu lalu kubaca. Ayah dan yang lain ternyata pergi ke rumah nenek karena nenek sedang sakit.
Mereka sengaja tak membangunkanku karena aku butuh istirahat.

Tayangan TV sungguh membosankan. Kutelusuri tombol yang ada. Tapi tetap saja tak ada yang bisa meghiburku.

Aku segera mematikan TV.

Aku teringat akan mimpi yang membuatku harus mencium lantai.

Aku memanjat pohon dan duduk pada dahan yang paling tinggi. Dulu aku dan Dodi yang memanjat pohon ini.
Sekarang hanya aku. Aku diam sejenak. Aku menunggu apa yang akan terjadi padaku.

Terik di siang itu tak kuhiraukan. Aku masih bisa merasakan semilir angin hangat membelai tubuhku.

Dodi benar. Di atas pohon ini aku bisa melihat semuanya. Merasakan sejuknya angin dan merasakan segarnya buah belimbing di atas pohon. Tapi sayang, kali ini hanya bunga belimbing yang dapat ku lihat. Buah belimbing yang biasa kami nikamati kini belum berbuah.

Aku juga tak pernah memanjat pohon ini. Rara dan Zahra sebenarnya ingin sekali memakan buah belimbing itu. Tapi karena aku selalu menolak untuk memanjat, mereka akhirnya bosan. Maklum, diantara kami yang bisa memanjatkan cuma aku dan Dodi.

Dari atas pohon itu aku bisa melihat rumah yang dulu ditempati oleh Dodi dan keluarganya. Bayangan masa lalu menari dihadapanku.

Pertanyaan besar yang selama ini kusimpan harus aku cari jawabannya.

Aku selalu bertanya pada diriku sendiri.

”Mengapa kini Dodi tidak tinggal di rumah itu seperti dulu?”

Lantas ia tinggal di mana?

Apa ia benar-benar ingin melupakan aku? Atau lebih tepatnya kita (Aku, Rara dan Zahra)?

Kenapa aku tak pernah melihanya sekalipun berkunjung ke rumah itu?

Apakah itu bukan Dodi?

Nggak mungkin! Nama dan wajahnya seperti Dodi yang ku kenal.

Aku teringat ucapan Om Surya dan janji Dodi.

Lagi-lagi memori masa lalu harus kuingat. Walaupun itu membuatku tersenyum dan menangis sorang diri.

Jika kita menyukai seseorang maka kta harus mengungkapkannya. Yahhhh… kira-kira seperti itulah pesan
Om Surya padaku.

Dan janji yang selama ini aku tunggu bahwa ia akan kembali untuk kami.

Apakah ia masih ingat?

Janji adalah hutang.

Kini aku benar-benar akan berpisah dengannya untuk yang kedua kalinya. Mungkin ini memang takdir.

Mungkin sampai disini persahabatan kami.

Dan mungkin aku harus bisa melupakannya untuk selamanya.

Aku telah lulus. Otomatis aku tak bisa lagi bertemu dengannya.

Untungnya, aku, Rara dan Zahra diterima di SMA yang sama. Hanya saja kelas kami berbeda. Sedangkan
Krisna? aku tak tahu ia diterima di sekolah mana.

Aku belum sempat mengucapkan kata maaf padanya.

Setahun sudah aku menikmati suasana sekolahku yang baru bersama teman-temanku yang baru juga.

Ketika aku sedang main kerumah Rara, sekilas kulihat Krisna lewat dihadapan kami. Aku tak percaya kalau itu Krisna.

Jantugku berdegup kencang.

Entah mengapa, aku sangat merasa bersalah padanya.

”Ra! Kalian tadi liat Krisna kan?” tanyaku untuk meyakinkan apa yang telah aku lihat.

”Kapan? Mana?” Rara dan Zahra malah balik bertanya.

”Baru aja.” jawabku sambil melihat ke sebrang jalan.

”Itu Ra!” teriakku senang hingga tak kusadari kalau tanganku telah membuat bahu mereka panas.

”Aku pengen ngomong sama dia.”

”Krisna!!!!!” mereka berdua memanggil Krisna berkali-kali tapi ia tak menoleh.

”Mungkin nggak kedengeran kali!” pikirku.

Krisna hampir tak terlihat. Mereka terus memanggilnya.

Malam hari ketika aku sedang sibuk mengerjakan tugas, Zahra ke rumah.

Aku heran. Tumbenan dia kerumah mlam-malam gini?

Sebenernya masih jam 7 sih!

Tapi bagi kami waktu paling malam keluar adalah jam 8.

Maklum, kami tinggal di desa. Jadi harus bisa menyesuaikan diri jika tak ingin diomong sana-sini.

”Ada apa Ra?”

”Kamu kerumahku sekarang yah! Ada Krisna di rumah.”

”Haahh??”

Aku sangat kaget. Tapi diahtiku aku sangat senang. Akhirnya aku bertemu kembali dengannya.

”Ngapain dia ke rumah kamu malam-malam gini?” tanyaku menyembunyikan kebahagiaanku.

”Udah. Pokoknya sekarang kamu ke rumahku aja. Rara juga udah unggu di sana”

Aku meminta Zahra menungguku.

Rara sudah di rumah Zahra?

Ada apa ini?

Kini Krisna telah dihadapanku. Ada Antonio dan teman-temannya yang tidak aku kenal.

Kutebarkan senyum ke arah mereka. Mereka nembalas senyumku. Aku sedikit malu dengan Antonio karena sepertinya ia dapat menangkap gerak-gerikku. Dia tersenyum padaku. Lagi-lagi aku harus tersenyum.

Aku semakin salah tingkah. Keringat segera mengalir deras.

”Hei!” kuucapkan salam pembuka dengan ragu.

Aku tak tahu harus berbuat apa.

Apa aku harus berjabat tangan dengannya?

Ah! lebih baik tidak!

”Aku sengaja menyuruh Krisna kesini.” ujar Rara pelan.

Mataku memandang Rara dan Zahra bergantian.

Rupanya ini rencana mereka berdua.

”Katanya kamu pengen ngomong sama Krisna?” sahut Zahra dengan tangannya yang jahil.

Aku mengambil tempat duduk di samping Zahra.

Aku mengipas tubuhku yang mulai panas.

Di tempat itu terasa hanya ada aku dan dia.

Hampir 1 jam kami mengobrol.

Aku belum sempat mengucapkan kata maaf ketika akhirnya Krisna menembakku.

”Aduh.. gimana yah kris.” ujarku terbata-bata.

”Sebenernya aku pengen ketemu kamu karena aku ingin minta maaf.” lanjutku dengan nafas yang menggebu.

”Minta maaf? Emang kamu salah apa?”

Kutatap wajah teduhnya. Sedikit berbeda.

Udara yang dingin terasa panas bagiku.

Aku bingung. Aku harus memulainya dari mana.

Ia terus memandangku. Pandangan yang semakin membuatku salah tingkah.

”Kenapa kipas-kipas? Nerves?” tanyanya langsung nggak pake embel-embel.

”Hah! Nerves? Nggak lah kris. Ngapain aku nerves. Orangtadi kan aku makan trus kebanyakan sambel jadi kepedasan deh!” jawabku dengan senyum memaksa.

”Udah deh! Aku udah tau kok!”

”Udah makan korban berapa?” aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Jujur! Baru kali ini berbicara dengan cowok yang pernah ada di hatiku walaupun belum sampai tahapan pacaran. Apalagi jaraknya dekeeeettttt!!! banget.

”Korban apaan?”

”Alah udah deh! Udah makan koban berapa?”

”Korbannya banyak sih! Tapi belum ada yang pas. Mungkin kamu!”

Ya tuhan! Dia memang pinter banget nggombal. Tapi aku nggak akan termakan sama gombalannya.

”Kris! Aku pegen minta maaf soal….”

Ya… alur pembicaraanku berubah-ubah. Aku nggak tau harus ngomong apa lagi.

”Udah! Nggak apa-apa. Sekarang aku minta satu sama kamu.”
maksudnya apaan sih? Aku kan belum ngomong kenapa aku minta maaf? Kok dia bilang gitu sih?

”Apaan?” jawabku singkat.

”Aku pengen kita….nggak..nggak..!” suaranya terputus.

”Kamu mau ngisi hatiku?” lanjutnya seraya menatapku begitu dalam.

”Apa?” rintihku dalam hati. Inilah yang aku takutkan. Aku takut menyakiti hatinya. Sebenernya aku pengen minta maaf karena aku dulu nggak menghiraukan dia. Padahal aku tau kalau dia suka sama aku.

Aku terdiam. Aku nggak bisa! Aku nggak mau pacaran! Aku masih menunggu Dodi!

”Gimana Ra?”

Aku menghembuskan nafasku. Dadaku mulai terasa sesak.

”Kalau kamu nggak mau juga nggak papa kok!”

”Bukannya gitu Kris!”

”Terus gimana? Kamu mau jadi pacar aku?”

”Kasi aku waktu yah!”

”Waktu? Waktu untuk apa? Berfikir? Sebenernya kamu suka nggak sama aku?”

Kulihat wajahnya sekilas. Rasa bersalahku padanya tak bisa kuutarakan.

Rasa bersalahku bertambah ketika melihat wajahnya yang polos itu.

”Aku suka temenan sama kamu.” akhirnya aku bisa membuka mulutku setelah terdiam beberapa saat.

”Plis! Kasi aku waktu yah?” pintaku padanya. Aku melihat raut wajah polosnya berubah. Aku tidak tega.

”Sebenernya aku suka sama kamu. Aku pengen jadi pacar kamu. Aku pengen ngerasain gimana rasanya pacaran. Aku pengen seperti temenku yang lain. Aku pengen keluar sama pacar aku. Aku pengen saat kumpul sama temen-temen aku bisa ngenalin pacarku ke mereka.” aku hanya bisa berkata dalam hati.

”Jadi kamu lebih suka kita temenan?”

Aduh! Aku salah ngomong lagi.

”Gini aja yah! Kasi aku waktu untuk memikirkan hal ini. Oke?”

”Oke. 3 hari.”

Sepertinya waktu 3 hari itu tidak cukup bagiku.

”Satu minggu lagi aja yah!” kupasang wajah polosku untuk meluluhkan hatinya.

”Satu minggu? Lama banget?”

”Kamu mau beri aku waktu atau nggak?”

Seperti biasanya, aku tidak bisa bersabar. Nada tinggipun keluar.

”Iya deh! Nggak usah marah. Oya nomor telfon kamu berapa?”

”Aku nggak punya Hp.” ucapku pelan.

”Hari gini ngak punya Hp?” ya.. itulah yang selalu diucapkan temen-temenku. Aku memnag tidak diperbolehkan ayahku untuk membawa Hp. Ayah menyuruhku agar aky tetap kosen pada pelajaranku.

”Yaudah. Kalau aku punya rezeki ntar aku beliin deh!”

Ya tuhan…..Krisna memang berbeda dengan temenku yang lain. Dia tidak mengejekku.

”Nggak usah. Aku emang masih nggak pengen punya hp aja.”

”Yang beneeer?”

”Beneran….”

Aku berbohong. Sebenarnya aku ingin mempunyai Hp. Tapi apa maudikata.

Tak lama setelah itu Rara dan Zahra muncul kembali.

Suasana kembali mencair dengan guyonan mereka.

Waktu yang ditetapkan telah tiba.

Rasanya aku ingin melarikan diri. Aku tak ingin bertemu Krisna.

Aku tak ingin menyakiti hatinya untuk yang kesekian kalinya.

”Ntar malem aku mau ke Surabaya.” ucapku ketika Rara dan Zahra menghampiriku di kantin sekolah.

”Ngapain kamu ke surabaya?” tanya Zahra sambil menyeruput jus alpukat milikku.

”Ada acara keluarga.”

”Lho bukannya ntar malem kamu mau ketemu sama krisna?” sahut Rara.

Aduh….. Kenapa Rara mesti inget sih?

Zahra mengangguk sambil terus menyeruput jus yang kini didepannya hingga habis.

Aku mencoba mengaluhkan pembicaran tap Rara tetap teguh dengan pertanyaannya.

Akhirnya aku menyerah. Ku katakan yang sebenarnya.

”Sebenernya emang nggak ada acara keluarga sih. Aku cuma nggak ingin ketemu Krisna.”

”Kamu gila atau memang nggak punya hati?” perkataan pedas itu keluar dari mulut Zahra.

”Kamu nggak tau sih. Aku nggak ingin dia sakit hati aja.” ucapku lirih.

”Emang ntar kamu mau ngasi jawaban apa ke dia?”

”Aku mash ingin nunggu Dodi.”

”Emang kamu udah gila yah. Kamu itu udah dubutatulikan sama yang namanya Dodi. Sadar kenapa?”

Kini giliran Zahra yang memuntahkan amarahnya padaku.

”Kamu emang jahat banget Ra. Kamu tau sendiri kan Krisna itu udah dari dulu suka sama kamu. Tapi apa yang kamu kasi ke dia?”

Setiap kali aku akan memberikan penjelasan, mereka selalu menyerbuku dengan perkataan-perkataan pedas mereka. Aku kini harus diam.

”Dulu kita emang selalu menunggu Dodi. Kita selalu mencari pertanyaan kita tentang Dodi. Kita berharap Dodi bisa mengingat kita dan kita bisa melanjutkan persahabatan kita dengan dia yang sempat terhenti. Sekarang kita udah tau semua jawabannya. Tapi kamu tetep aja kayak orang gila. Kamu egois kalau kamu menganggap hanya kamu yang menginginkan Dodi kembali. Kamu tau gimana susah payah kita kan? Udah deh Dara. Berhenti jadi orang gila.” ucap Rara panjang lebar.

Telingaku sudah tak tahan mendengar perkataa mereka. Tapi rupanya Zahra masih belum puas dengan perkataan Rara.

”Kamu udah sangat terobsesi dengan yang namanya Dodi. Apa kamu akan selamanya berada dalam bayangan masa lalu? Liat sekarang. Ada seseorang yang begitu tulus mencintai kamu. Krisna. Dia nggak seperti Dodi yang menjanjikan sesuatu kan sama kamu? Itu yang harus kamu tau. Dari situ kita udah bisa liat gimana sebenarya Dodi. Saat kamu ingin bertemu dengan Krisna Aku dan Rara susah payah datang kerumahnya dan memintanya agar menemui kamu di rumahku. Saat aku minta dia datang kerumahku dia bilang dia pasti akan datang. Dan teryata? Bener kan? Dia datang. Memang dia sempat beberap kali pacaran tapi itu nggak lama karena dia masih menanti kamu. Sekarang terserah kamu mau gimana. Pokoknya aku sama Rara udah berusaha agar kamu bisa ketemu dengan dia lagi. Kamu mau lari? Terserah! Itu sudah bukan urusan kita. Kalau ntar Krisna kerumahku akmu tinggal jawab kalau kamu tidak menyukainya.”
Setelah puas memberku wejangan mereka berdua pergi meninggalkanku sendiri ditempat ini.
Aku hanya bisa menangis.

Saat di kelas mereka tak menyapaku sama sekali. Bahkan tak menoleh kearahku sedikitpun.

”Apa kini aku harus kehilangan mereka berdua setelah aku kehilangan Dodi? Aku tak ingin semua sahabatku pergi meninggalkan aku. Aku tak boleh egois. Aku harus melihat kenyataan yang ada.” Aku hanya bisa bicara sendiri di dalam kelas.

Bel pulang sekolah telah bendering. Mereka tetap tak manyapaku. Akhirnya aku pulang sendiri.
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 19.00. Mau tak mau aku harus berani menghadapi apa yang akan terjadi.

”Apa aku harus menemuinya?” tanyaku dalam hati.

Aku terus memikirkan perkataan Rara dan Zahra.

Mereka memang benar. Tapi aku tetap tak bisa.

Perlahan kulagkahkan kakiku menuju rumah Zahra.

Degh…….

Semakin dekat dengan rumah Zahra, detak jantungku semakin kencang.

Kulihat semua telah berkumpul.

Semua mata tertuju padaku.

Perlahan tapi pasti akhirnya aku sampai. Rara dan Zahra duduk bersebelahan dengan Krisna dan Antonio.
Sementara aku mengambil posisi yang tak terlalu jauh dari tempat duduk mereka.

Aku menoleh ke arah mereka. Rara dan Zahra tersenyum. Tapi aku tahu mereka terpaksa menyunggingkan senyumnya.

Krisna menghampiriku dan duduk di sampingku. Aku segera menjaga jarak dengannya.

”Gimana kabarnya?” ucap Krisna mengawali pembicaraan.

Aku tersenyum.

” Jadi jawabannya apa?”

Aku terdiam cukup lama. Begitu juga dengan Rara, Zahra dan Antonio.

Aku tau bukan hanya Krisna yang menunggu jawabanku.

Aku masih terdiam hingga Krisna mengulang kembali pertanyaannya.

” Jadi?”

”Aku….” kehembuskan nafas untuk mengurangi rasa sesak di dalam dada.

”Aku nggak….” Krisna sabar menunggu jawabanku. Pandangannya semakin lekat menatapku.

”Aku nggak mau nolak kamu.” jawabku pasti.

”Jadi kamu nerima aku?”

”Emmm. Iya dong.”

Krisna tersenyum puas.

”Ciyeee…….. bakal ada pesta nih.” ucap Rara, Zahra dan Antonio serentak seraya menghampiri kami berdua.

Aku mendapatkan pelukan kehangatan dari kedua sahabatku.

Aku merasa sangat senang.

Dodi?

Dia telah menghilang bersama janjinya.

Dan seseorang yang aku kira Dodi ternyata bukan Dodi yang kumaksud.

Dodi tak pernah memenuhi janjinya. Dia tak pernah dan tak akan kembali.

Kini aku telah menemukan cinta sejatiku dengan seseorang yang tak pernah kuduga.

3 Komentar (+add yours?)

  1. Cewe sexy bohay
    Jun 26, 2010 @ 06:34:25

    Senasib… T.T

    Balas

  2. faza
    Jul 22, 2010 @ 08:32:31

    NICE…………………………………………………^_^b

    NICE…………………………………………………^_^b

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: