Berkah Ramadhan


Suasana di kota Malang saat itu agak ramai. Jarum jam sudah berada pada angka 16:30, tapi Lila masih sibuk dengan pekerjaannya membersihkan rumah.

Remaja seumurannya terlihat sudah bersiap-siap untuk keluar dengan pasangannya masing-masing.Teman-temannya selalu mengajaknya ikut keluar tapi  selalu saja mereka gagal. Ia tak peduli dengan hiruk-pikuk yang terjadi. Dalam genknya, hanya dialah yang tidak mempunyai pasangan.

Entah mengapa tak terbesit sedikitpun dalam pikirannya untuk memiliki pasangan. Teman-temannya selalu memberi wejangan agar ia mau membuka hati. Berbagai cara ditempuh oleh Dina, salah satu temannya yang paling cerewet. Sayang, usaha sebesar apapun yang Dina lakukan tak ada yang berhasil.
Di bulan ramadhan ini mereka menyusun rencana untuk Lila.

“Assalamualaikum!” Teriaknya lirih saat mengetuk pintu rumah Lila.

Tak terdengar jawaban dari dalam rumah mungil itu.

Ia kembali megucapkan salam.

“Assalamualaikum!”

“Waalaikumsalam1” Baru terdengar jawaban dari dalam.

Kreek!

Suara pintu terdengar nyaring. Sosok mungil keluar sambil tersenyum malu.

“Lho kok adik yang membukakan pintunya? Kak Lilanya mana?”

“Kak Lilanya masih masak kak!”

“Bisa dipanggilin nggak?”

Sosok kecil itu segera berbalik dan menghilang tanpa mempersilahkan mereka untuk masuk.

Mereka memilih untuk menunggu di luar dan duduk di lantai.

Tak lama kemudian Lila keluar dengan adiknya.

“Kalian. Ada apa?”

“Ada apa gimana sih! Hari ini kan kita ada rencana mau keluar.” Ucap Dina sedikit emosi melihat tingkah temannya.

“Masak sih! Kok aku nggak tau?”

“Udah! Kita nggak dipersilahkan masuk dulu nih?” Lerai Zahra karena ia tahu keduanya dalah sosok yang
tidak mau mengalah.

“Oiya. Masuk yuk!”

“Gimana kalau kita duduk di bawah pohon itu aja?” Usul Arin sembari menunjuk ke arah pohon besar yang tumbuh di halaman rumah Lila.

Pohon itu mempunyai makna yang sangat besar dalam hidupnya.

Sesuatu tersimpan di atas pohon itu.

Tak ada yang tahu.

Hanya ia dan seseorang yang menghilang dari kehidupannya.

Setiap pagi, ketika ia menyapu halaman, ia selalu menatap pohon besar itu tajam seraya berkata.

“Mana janjimu?”

Zahra selalu memergoki Lila sedang melamun di bawah pohon. Berulang kali ia mencoba untuk menguak
rahasia yang disimpan sahabatnya sejak SMP itu.

“La’. Kenapa sih kamu selalu melamun dan melihat ke atas kalau duduk di bawah pohon ini?”

“Nggak tau Zah. Enak aja kalau aku bersandar di pohon ini.”

Ketika mereka duduk di bangku SMA kelas 1, Zahra melihat Lila membawa topi berwarna hijau. Layaknya
manusia, pohon itu ia ajak bicara dan mengenakan topi itu ke dahan pohoh.

“Kamu masih ingat topi ini kan?” Kata Lila pada pohon itu.

Angin bertiup lembut. Mungkin itu sebuah jawaban.

“Kalau kamu masih inget, kenapa kamu nggak balik?”
tiba-tiba hujan turun sangat deras.

Tapi Lila tak beranjak dari duduknya. Ia tetap memandang pohon itu walaupun hujan membasahi tubuhnya.

Zahra kebingungan mencari tempat untuk berteduh.

Ia benar-benar heran melihat tingkah Lila yang aneh itu.

Lila menangis diiringi suara petir.

Seperti tak takut mati, lagi-lagi Lila tetap pada possinya.

Zahra terus memperhatikannya walaupun dari kejauhan.

Hujan berhenti.

Lila mengambil batu lalu melemparkanya ke arah pohon.

“Kenapa sih tuh anak?” Tanya Zahra bingung.

Menginjak kelas 2, tingkah Lila semakin aneh.

Hampir setiap malam ia selalu bersandar pada pohon dan memainkan gitar.

Zahra begitu terkejut.

Setahunya, Lila tidak bisa memainkan alat musik itu.

Lagu yang ia nyanyikan setiap malam selalu sama.

Setelah ia dengar baik-baik lirik yang mengalir, ia tahu kalau lagu itu berjudul “Semua Tentang Kita”

Tingkah aneh Lila mulai berhenti ketika kelas 3.

ia tak lagi mengajak pohon untuk bicara, tak lagi menyanyikan lagu, dan tak lagi memegang alat musik, apapun jenisnya.

“Aku harus nyari tau kenapa Lila seperti ini.” Ucap Zahra pada diri sendiri.

Mereka setuju dengan usul Arin.

“Sebenernya aku pengen kita duduk di luar agar bisa liat cowok cakep lewat. hi..hi..hi..!” Ucap Arin menjauh dari mereka karena ia tahu sesuatu akan mengenainya.

“Huuh! Dasar!”

Kali ini ia berhasil mengelak cubitan dan jitakan dari mereka.

“Masih kurang Rin?” Tanya Lila mencbir.

“Adit mau kamu kemanain?” Zahra melanjutkan.

“Kalau kamu dapet yang baru mendingan buat Lila aja. Iya nggak temen-temen” Celetuk Dina.

“Tul betul itu.”

“Kok gitu sih? Mulai nih?”

“Aduh Lila temanku yang manis, yang lucu, yang baik hati dan tidak sombong. diantara kita nih tinggal kamu aja yang belum punya pacar.” Cerocos Zahra.

“Emang penting?”

“Sangat penting untuk kelansungan hidup manusia di bumi. Sampai kapan kamu seperti ini. Ayolah! Apa
salahnya sih membuka hati.” Arin menambahkan.

“Ni kan udah sore. Masih aja ceramah!”

“Lila! Ini adalah ceramah sambil menanti adzan magrib.”

“Kalau gitu, ceramah saja di masjid. Tuh, depan rumah ada masjid. Daripada ceramah disini yang
ndengerin cuma kita. Mendingan disana. Banyak yang siap ndengerin ceramahan kamu.” Tegas Lila yang
sudah gatel melihat taman-temannya yang selalu menyuruhnya untuk mengikuti gaya mereka.

“Ceramanya ditunda dulu yah Arin. Kita kesini tadi kan ingin mengajak tuan putri Lila untuk keluar dari
istananya. Biar dia bisa melihat pemandangan di luar istananya yang megah ini.” Potong Dina setelah
melihat jarum jam yang telah menunjukkan pukul 16:00.

“Lebay deh.” Ucap Lila sambil beranjak.

“Kamu mau kemana La?”

“Ntar dulu. Aku tadi nggoreng ikan. Takut gosong. Kalian ngobrol dulu aja yah?”

Lila menghilang di balik pintu diikuti oleh adiknya.

Dina segera mempersiapkan rencana yang telah mereka susun. Arin merogoh tas pinknya dan
mengeluarkan HP lalu menelfon seseorang. Sementara Zahra berlari menuju rumahnya. Rumah Zahra
memang dekat dengan rumah Lila, hanya berjarak satu gang saja.

Tak lama kemudian Lila keluar.

“Zahra mana?”

“Tau. Katanya tadi mau pulang sebentar.” Jawab Arin yang masih menelfon.

“La, kita keluar yuk!” Ajak Dina sudah tak sabar.

“Sekarang?”

“Nggak! Tahun depan.”

“Ya sekarang lah La!” Sahut Arin sembari memasukan kembali Hpnya.

“Emangnya mau kemana sih?”

“Udahlah. Ayo!”

“Tapi ini kan udah hampir maghrib? Mau maghrib di jalan? Gimana kalau kali ini buka di rumahku aja?”

“Nggak ah! Kita kan udah ada rencana mau keluar. Ya nggak Rin?”

“Iya. Masak setiap kali mau keluar nggak jadi. Apalagi kamu La. Ada saja alasannya. Nah tuh Zahra.”

“Udah siap?” Tanya Zahra yang baru datang dengan sepeda motornya.

“Jadi kamu pulang tadi mau ngambil sepeda toh?”

“Udah ayo berangkat. Bisa nggak jadi nih kalau gini caranya.” Ajak Dina.

“Aku nggak bisa. Kalian sajalah.” Tolak Lila.

“Tuh kan! Udah aku tebak.”

“Iya sori! Sekarang kalian saja yang keluar. Lain kali kita barengan.”

“Kalau satu nggak bisa, yah nggak bisa semua.”  Dumel Arin kesal.

Semua terdiam. Tak lama setelah itu terdengar adzan magrib berkumandang.

Alahu Akbar…Allahu Akbar…

“Tuh kan udah maghrib. Aku bilang juga apa? Kalian buka di sini aja!” Ucap Lila tanpa rasa bersalah. Ia
kemudian masuk ke dalam dan keluar membawa minuman.

“Ya sudah. Kali ini kita buka disini aja.”

“Nggak bisa gitu dong Zahra. Coba hitung, udah berapa kali Lila nolak ajakan kita buka bersama?”

“Udah. Ayo buka dulu. Aku udah haus nih. he..he..he..” Potong Arin tak tahan melihat es kopyor di
depannya.

Rencana yang telah mereka sipakan kali ini gagal. Tapi mereka tak berhenti sampai disitu.

Beberapa hari kemudian mereka mereka kembali ke rumah Lila untuk mengajaknya keluar.

Sayang sekali lagi-lagi meraka gagal karena Lila sedang tidak ada di rumah.

Akhirnya mereka memutuskan untuk buka bersama tanpa Lila.

Mereka pergi ke rumah makan yang terletak di bukit tak jauh dari rumah Adit karena ia yang tahu tempat-tempat indah di desanya.

Tempat ini memang sudah mereka persiapkan khusus untuk hari ini. Demi sahabatnya mereka sampai rela mencokel uang tabungan untuk menyewa tempat romantis dengan pemandangan yang subhanallah indahnya.

Dina sempat putus asa. Dia sudah tidak mau lagi melanjutkan rencana yang ia buat sejak 2 bulan yang lalu itu.

“Aku rasa, rencana kita sudah sampe disini aja deh. Toh kalo dilanjutin nggak akan ada hasilnya.”

Ungkapnya sebal.

“Jangan gitu dong Din! Masa’ kita berhenti ditengah jalan gini.”

“Kalo kita ngelanjutin rencana kita yang konyol ini, cuma buang waktu kita aja Rin. Mendingan aku keluar
sama Adi.”

“Kamu kok gitu sih? Demi Lila. Soib kita!”

“Iya Din. Kamu nggak kasihan liat dia? Kalo kita keluar selalu dia yang ga ada pasangannya.” Zahra
menambahkan. Mencoba merubah keputusan Dina.

“Salah dia sendiri. Kenapa nggak mau pacaran. Berapa cowok coba yang aku kenalin ke dia tapi selalu dia
tolak? Kamu juga kan Rin? Berapa cowok yang udah kamu kenalin kedia? Nggak ada yang dia terima kan?
Siapa coba yang nggak kesel?”

“Iya juga sih.” Arin mencoba mengingat kembali daftar nama cowok yang ia kenalin ke Lila.

“Hey!” Teriak seorang dari kejauhan.

“Tuh mereka dateng!” Ucap Zahra kegirangan.

Mereka menoleh ke asal suara itu.

Rupanya Adi, Adit dan Andi yang sedang menuju ke arah mereka.

Entah suatu kebetulan, kesengajaan atau memang sudah takdir, nama pacar mereka diawali dengan huruf
yang sama.

Dengan cekatan, mereka segera duduk disamping pasangan masing-masing.

“Udara disini dingin yah? Enak dong buat…” Adit memulai.

“Adit!”Putus Arin memandangnya tajam.

“Buat apa hayo? Dit…dit…di otak elo cuma barang gituan aja yang elo pikirin.” Timpal Andi sambil melirik
cewek berhidung mancung disebelahnya. Siapa lagi kalau bukan Zahra. Sosok wanita yang paling ia
sayang.

“Alah Dit! Gaya lo tuh! Kayak ngak pernah mikirin yang gituan aja.” Balas Adit tak mau kalah dengan
pukulan yang mendarat di bahu Andi.

“Mana Lila?” Tanya Adi yang sedari tadi tak melihat empat sekawan kurang satu itu.

“Seperti biasanya yank.” Jawab Dina malas.

“Nggak mau?”

“Bukannya nggak mau. Tapi dia lagi nggak ada dirumah.” Jawab Zahra mencoba membela.

“Sekarang emang dia lagi ngak ada dirumah. Tapi yang kemaren? Dia selalu menghindar. Mengalihkan
pembicaraan sampe-sampe kita harus buka dirumahnya.” Bantah Dina ketus. Dia memang sudah tidak
tahan lagi melihat sahabatnya yang satu itu.

“Udah dong yank. Mungkin untuk saat ini dia nggak mau pacaran dulu.”

“Terus kapan?”

Allahu Akbar…Allahu Akbar…

“Alhamdulillah.” Syukur mereka bersama.

“Untuk kali ini. Nggak ada Lila juga nggak apa-apa. Toh dengan adanya dia disini juga nggak akan
menambah selera makan kita kan?”

“Udah dong Din!” Putus Zahra.

Sudah seminggu ini Dina tidak ada dirumah. Zahra mencari keberadaannya dari tetangga dekatnya.

Hal buruk mungkin akan terjadi. Tanpa adanya Dina, rencana yang telah mereka susun mungkin memang
sudah tika bisa dilanjutkan lagi.

Zahra terus berfikir bagaimana caraya untuk mengabari Arin dan Dina. Mereka pasti akan sedih.

Dua hari setelah kabar yang ia terima, akhirnya Zahra memutuskan untuk ke rumah Arin.

Dalam sms yang ia kirim,ia mengatakan kalau kali ini mereka semua termasuk pasangan masing-masing
harus berkumpul di rumah Arin pukul setengah lima.

Arin segera mempersiapkan menu untuk buka puasa nanti.

Ia masih penasaran apa yang akan Zahra ceritakan nanti.

Hal ini sangat penting agar mereka tidak membuang waktu untuk orang yang tidak ada.

Zahra telah siap. Kini ia harus menunggu Andi.

Dirumah Arin semua telah berkumpul. Tingal Zahra dan Andi. Rasa peasaran mereka semakin menjadi.
Sms yang Zahra kirim menimbulkan seribu pertanyaan.

“Zahra mana sih?”

“Aku juga nggak tahu. Coba kamu hubungin dia deh Din!” Usul Arin seraya masuk ke kamarnya untuk
mengambil kepingan uang logam karena ada pengamen yang singgah di rumahnya.

Uang itu tak segera ia berikan. Ia menunggu hingga lagu yang dibawakan selesai.

Matanya secara teliti mengawasi salah satu pengamen yang memainkan gitar.

Tanpa sadar ia membuat Adit cemburu.

“Yang bawa gitar itu lumayan juga!” Sindir Adit padanya.

“Iya!” Saking seriusnya mengamati ia sampai lupa kalau itu suara cowoknya.

“Gantengan mana sama aku?” Lanjut Adit.

“Kayaknya dia deh! Dia cool abiz. Aww..

Eh nggak kok yank. Gantengan kamu kok. Sory!” Ia baru sadar setelah semut merah menggigit kulit
putihnya. Segera ia berdiri.

“Sini biar aku saja!” Cegah Adit setengah marah.

Ia lalu memberikan selembar uang kertas tepat pada cowok yang membawa gitar itu. Matanya mengawasi
dari atas hingga bawah.

Yang dilihat rupanya tersinggung dengan tatapan sinisnya.

“Kenapa lo? Ngeliat gue kayak ngelihat pencuri aja.”

“Nggak kok. Aku cuma pengen bisa maen gitar kayak kamu.” Jawab Adit meredam amarahnya. Ia kembali
ke dalam.

Arin tak enak dengan ucapannya tadi.

“Yank! Beneran deh. Aku minta maaf.”

“Iya udah ya! Aku tadi udah bilang ke cowok tadi kalau kamu suka dia. Tenang saja! Nanti kamu bakalan
ganti kok!” Jawab Adit mencoba untuk tersenyum.

“Maksud aku bukan gitu yank.”

“Eee..sini deh. Aku kasi tau” Lanjutnya seraya berbisik.

“Astaghfirullahhaladzim! Arin! Adit! Ingat! Ini masih bulan puasa! Tahan dikit dong. Ditinggal bentar aja
udah begituan.” Teriakan Dina mengagetkan mereka berdua.

Adi hanya tersenyum.

“Begituan apanya?” Tanya Arin bingung.

“Kamu tadi ciuman sama Adit kan?”

Adit dan Arin saling memandang satu sama lain lalu tertawa lepas. Lucu melihat Dina yang selalu suudzon.

Kini giliran Dina yang bingung.

“Kalian ini gimana sih?” Tanyanya sambil mengernyitkan alis tinggi.

Adi menggeleng melihat pacarnya yang sedang kebingungan.

“Jadi kamu pikir aku ciuman ma Adit? Ya nggak lah Din! Aku juga tau kali…….sekarang tuh bulan
ramadhan.”  Jawabnya sambil terus tertawa.

“Eh Di. Bilangin tuh sama pacar elo. Jadi anak jangan suudzon melulu.” Pesan Adit pada Adi.

“Iya nih.”

“Terus kalian tadi ngapain?”

“Pokoknya ntar kalo Zahra udah dateng. Aku kasi tau kalian deh.”

“Yang satu belum juga kejawab. Ini malah nambah penasaran.” Dina menggaruk kepalanya yang tak
gatal.

Hingga Adzan maghrib berkumandang ia belum juga datang.

Mereka memutuskan untuk buka dahulu.

Mereka Sholat Maghrib hingga Tarawih di Musholla dekat rumah Arin. Dan Zahra belum juga datang.

Kira-kira pukul 8 lebih yang ditunggu baru datang.

“Tuhan! Ampuni dosa temanku ini karena ia tak menepati janjinya untuk datang tepat waktu.” Sindir Dina
begitu Zahra turun dari boncengan Andi.

“Sory temen-temen. Aku dateng telat.”

“Bukan telat lagi non!” Jawab mereka serempak.

“Kemana aja sih jam segini baru dateng?” Tanya Dina.

“ Terus napa HP kalian berdua nggak aktif?” Lanjut Arin sembari mengambil bungkusan dari tangan Zahra.

“Nanyanya satu-satu dong!Andi nih jemputnya telat. Masa’ jam 7 baru jemput. Aku aja nunggu sampe
kering. Hp aku tadi lowbatt jadi aku matiin terus aku carth.” Terang Zahra.

“Iya aku deh yang salah! Abisnya tadi banyak banget yang harus dikerjain di pabrik jadi aku matiin Hp biar
cepet selesai. Sekali lagi sory.”

mereka kemudian masuk.

Zahra memulai pembicaraan. Ia menjelaskan semua yang ia tahu tentang Lila.

Akhirnya, mereka mengerti.
“Kapan dia pulang?”

“Kira-kira lima hari lagi.”

“Terus gimana rencana yang udah kita buat? Apa harus gagal untuk yang kesepuluh kalinya? Genap deh.”
Adit menambahi.

“Gimana kalau kita buat rencana baru?” Usul Arin penuh semangat.

“Haaaahhhh????!!!! Rencana baru?” Sepertinya Adi tidak setuju dengan usul Arin.

“Gila apa lo?” Umpat Dina seperti biasanya. Bawaannya marah terus. Mungkin lagi dapet.

Tapi dapetnya kok terusan yah?

“Butuh waktu lama lho kalau kita buat rencana baru.” Zahra berargumen.

“Tenang! Sekarang kan masih puasa ke 10. puasa ke 21 nati kita bisa melaksanakan rencana.” Terang
Arin pada mereka.

“1o hari? Emang cukup? Rencana yang kemaren aja butuh waktu 2 bulan. Sekarang cuma 10 hari? Woi…
bangun! Mau lembur?”

“Diem dulu napa Din!”

Arin dan Adit mulai mempresentasikan hasil pengamatan dan pemikirannya.

Jarum jam telah berada pada angka 11 malam. Mereka segera pulang.

Hampir setiap hari mereka berkumpul untuk menyusun rencana.

Lima hari berikutnya, Lila telah pulang dari rumah neneknya di Bali.

Sejenak ia merasa ada yang beda dari perilaku teman-temannya.

Ia selalu melihat Zahra keluar dengan Andi. Tapi kali ini ia tidak diajak serta.

“La!” Teriak Zahra ketika melewati rumahnya.

“Mau kemana?”

“Ada deh!” Sahut Zahra dari kejauhan.

“Tumbenan Zahra keluar nggak ngajak aku?” Ujarnya penasaran.

“Mungkin dia cuma mau berduaan aja kali?” Lanjutnya lalu kembali menyapu rumah.

Dina dan Arin juga tak pernah menghubunginya sepulang dari Bali.

“Apa mereka marah? Karena aku nggak ngasi tau kalo aku mau ke Bali?” Ia terus bertanya pada diri
sendiri.

Waktunya masuk sekolah. Untung saja, jam belajar sedikit berkurang. Yang awalnya pulang jam 2 kini
mereka sudah bisa pulang jam 12. Dan Jam belajar mereka juga hanya 1 minggu selama bulan puasa ini.

“Ugh! Puasa-puasa masih aja harus masuk sekolah!” Mungkin itu yang ada di benak seluruh siswa
termasuk Lila.

Seluruh siswa masih terlihat duduk di depan gerbang sekolah. Mereka terlihat malas untuk menengok ke
dalam.

Hingga bel masuk berdering, mereka baru melangkahkan kaki ke halaman sekolah dengan malas.

Pelajaran hampir dimulai. Lila belum juga terlihat mengisi tempat duduknya.

15 menit kemudian, mereka melihat Lila lari menuju kelas.

“Tuh Lila!” Bisik Arin pada Dina.

“Assalamualaikum!” Salamnya lirih begitu berada di depan kelas.

“Waalaikum Salam! Aduh! Rupanya kebudayaan indonesia (jam karet) sudah menjiwai anak muda zaman
sekarang!” Ucap Pak Usman, guru Biologinya.

“Bawel banget sih ni orang! Udah syukur aku mauk!” Gerutunya dalam hati.

“Kamu telat karena semalam habis tahajjud atau…”

“Keluar sama pacarnya pak!” Ujar salah satu temannya.

“Boro-boro sama pacar. Sama kambing aja nggak!” Sahutnya kesal.

“Ya sudah! Silahkan duduk.”

“Akhirnya!” syukurnya dalam hati.

Ia segera menuju tempat duduknya.

Terlihat dari wajah mereka yang begitu ingin untuk tidak melanjutkan pelajaran.

Tak terasa. Bel pulang telah berdering.

Pagi kembali datang. Ia harus kembali datang ke sekolah.

Ini adalah hari terakhir ia datang ke sekolah. Karena setelah ini mereka akan libur panjang hingga tanggal
masuk pada tanggal yang ditentukan.

“Nggak ada energi buat ngomong!”

“Ngantuk!”

“Pengen cepet pulang!”

“Mendingan Ibadah (tidur) di rumah!”

Itulah yang merka katakan selama sekolah di saat puasa.

Padahal, puasa itukan bukan suatu halangan untuk melakukan aktifitas? Ya nggak?

Hari terakhir sekolah, siswa yang masuk semakin sedikit.

Suasana begitu hening.

Tidak ada anak yang berkeliaran dan duduk di depan kelas masing-masing.

Mungkin anak yang masuk di tiap kelas dapat dihitung dengan jari.

Dikelasnya, hanya dia dan para soibnya ditambah beberapa murid cowok yang mengisi ruangan besar itu.

Jam pertama hingga terakhir tidak diisi materi seperti biasanya. Kali ini para guru dari jam pertama hingga
terakhir mengisinya dengan bercerita atau semacam Sharing.

Kantin tutup. Kopsis juga tutup.

“Aduh! Laper nih!” Gerutu Lila yang kebetulan lagi DAPET.

“Jadi kamu lagi dapet La?” Tanya Arin menghampirinya.

“He’e. Tapi sial banget. Kantin nggak ada yang buka.”

“Yeee! Kalo buka emangnya siapa yang mau beli? Kamu doang? Rugi lah.”

Dina segera menarik Arin dan berbisik.

Lila semakin yakin kalau Dina marah dengannya.

“Gimana nih? Lila lagi dapet. Bisa gagal lagi rencana kita.”

“Iya juga sih. Gimana kalo kita tetep ajak dia.”

“dia pasti nggak mau lah Rin! Kaya’ nggak tau Lila aja!”

“Itu kita pikir nanti aja. Sekarang kita balik. Nggak enak ama Lila. Dikira ada kita nyembunyiin sesuatu.”

“Kalian marah sama aku?” Tannyanya bebegitu Arin dan Dina kembali.

“Marah? Marah kenapa La?” Jawab Arin.

“Iya. Nggak ada alasan buat kita marah sama kamu.” Sahut Zahra sembari mengarahkan lengannya ke
perut Dina.

“He’e. Buat apa kita marah?” Sahut Dina segera.

“Aku pikir kalian marah karena aku nggak ngasi tau kalian kalau akau mau…”

“Ooo itu? Kita udah tau dari Zahra kok La. Kamu ke Bali tanpa ngasi tau kita karena kamu buru-buru kan?”
potong Arin .

“Gimana kondisi nenek kamu? Udah baikan?” Tanya Zahra memperbaiki arah duduknya.

“Alahmdulillah udah!”

Akhirnya, bel pulang sekolah telah berdering.

Dina dan yang lain melarang Lila pulang dengan alasan ngumpul-ngumpul dulu di rumah Arin.

“Oya La. Malam 21 nanti kamumau kemana?” Dina tak sabar memulai rencananya.

“Nggak kemana-mana. Emangnya kenapa?”

“Kita nih ada rencana mau keluar. Kamu ikut yah?”

“Keluar? Kemana?”

“Ke Sunan Ampel.”

“Lha kita kesana mau ngapain?”

“Biar kita dapet Lailatul Qadar.”

“Kayaknya aku nggak bisa deh! Kalian tau sendiri kan aku sekarang lagi dapet? Lagian ngapain kita
pengen dapet Lailatul Qadar?”

“Kali aja kamu dapet Lailatul Qadar terus mau pacaran. he..he..he..” Ucap Arin menggoda.

“Hush! Lailatul Qadar itu bukan seperti itu?”

“Terus apa dong Zah?”

“Orang yang dapet Lailatul Qadar itu, Ibadahnya semakin baik. Bisa juga hubungan kita dengan sesama
manusia juga bertambah baik.” Terangnya penuh wibawa

“Kan sama saja Zah. Kalau Lila dapet Lailatul Qadar hubungannya sama cowok juga semakin baik. Cowok
kan juga manusia? Ya nggak La”

“He…he…he…nggak tau juga sih!”

“Ayolah La! Kita keluarnya kan juga nggak sekarang! Masih empat hari lagi kok!” Bujuk Dina.

Kini mereka menatap Lila serius.

Lila menjadi salah tingkah.

“Kalian ini ngapain sih mandang aku kayak gitu? Kayak liat pizza gratis aja?”

“Kamu harus ikut. Titik nggak pake koma.” Tegas Zahra menhembuskan nafasnya panjang.

“Iya La! Kamu harus ikut. Kali aja disana nati kamu dapet cowok!” Arin menambahkan.

“Ayo fikir. Sampai kapan kamu kayak gini? Kita semua udah punya cowok. Tinggal kamu aja lo La! Kamu
nggak malu setiap kita jalan bareng, cuma kamu yang nggak bawa pasangan.” Dina angkat bicara.

“Ngapain aku mesti malu? Aku pake baju! Kalau aku nggak punya cowok, itu kan hak aku? Udah deh Din,
mendingan ganti topik.” Usul Lila sedikit tersinggung dengan ucapan Dina.

Arin dan Zahra mulai merasakan hawa panas diantara mereka.

“Yang jelas kita ke Sunan Ampel itu bukan untu nyari cowok. Tapi supaya kita mendapatkan berkah dari
bulan ramadhan ini.” Zahra mulai mengganti topik.

“Emang sih itu hak kamu. Dan nggak ada yang bisa ngelarang. Kamu mungkin nggak malu. Tapi kita? Kita
malu. Malu banget. Setiap kita jalan bareng, selalu saja ada yang nanya satunya kok nggak ada
pasangannya? Kita mau jawab apa? Apa kita mau jawab kalau kamu emang nggak punya pacar N nggak
mau pacaran? Hari gini ada anak yang nggak mau pacaran? Mustahil La!”
Cerocos Dina yang
membuatnya tersinggung.

Arin dan Zahra hanya diam seribu bahasa. Menunggu bom siap meledak.

Menunggu pertempuran terjadi di antara mereka berdua.

Kalau toh Arin atau Zahra menengahi, yang terjadi malah Lila yang beranggapan kalau dia selalu membela
Dina.

Mendingan dia diam. Dan memberi masukan jika perdebatan selesai.

“Ya udah kalau kamu malu! Ngapain sekarang pake ngajak aku keluar? Udah tau aku hanya bikin malu,
tapi masih tetep aja maksa untuk ikut.”

“Siapa yang maksa? Aku nggak pernah maksa kamu untuk ikut! Cuma mereka berdua aja yang ngotot
ngajak kamu. Asal kamu tau yah La, kita tuh udah membuat beberapa rencana tapi selalu gagal gara-gara elo sendiri! Apa elo tau, kalau rencana itu membutukan uang? Dan uang yang dipake itu adalah uang aku!”

“Ooo gitu?” Lila manggut-manggut.

“Oke! Kalau gitu aku nggak ikut! Puas! Dan kali ini nggak akan ada yang bikin kamu malu. Dan uang kamu
nggak akan lagi berkurang” Lanjutnya kesal.

lila sudah bersiap untuk pergi, tapi niatnya segera dihalangi oleh Zahra. Sementara Arin memberi arahan
pada Dina agar mengalah.

“Lila tunggu!” cegah Zahra. Ia tak ingin Lila marah dan semakin terluka.

Sedikit demi sedikit Zahra mengetahui rahasia Lila.

Sejak kepulangannya dari Bali, Lila selalu meletakkan lembaran kertas yang ia lipat sekecil uang logam di
beberapa dahan.

Zahra selalu mengambil kertas itu lalu membawanya pulang untuk dibaca. Setelah itu ia meletakkan
kembali kertas itu pada tempatnya agar Lila tidak curiga.

Hal ini tidak pernah ia ceritakan pada Dina dan Arin, karena ia takut mereka keceplosan dan pastinya Lila
akan marah besar.

“Ngapain kamu cegah dia! Biarin saja dia pergi. Toh kalau dia nggak ikut malah enak. Nggak ada yang
ngerepotin lagi.”

“Dina!” Potong Arin kesal.

Zahra juga memandang Dina kesal.

“Udah deh Rin. Kita liat aja sampe kapan dia nggak mau pacaran? Masa lalu apa sih yang bikin dia sepeti
itu? Alasannya juga nggak jelas. Kita juga nggak pernah dikasi tau kan sama dia.”

Lila berbalik untuk mengatakn sesuatu..

“Eh Din, elo inget baik-baik. Nggak semua hal harus kita kasi tau ke orang lain. Setiap orang pasti
mempunyai alasan kuat atas apa yang dia lakukan.”

ia berhenti sejenak mengambil nafas.

“Atau gini aja. Coba deh elo tanya sama Adi kenapa dia bisa suka sama elo? Pinter juga nggak kan?
Cerewet yang iya. Dia pasti nggak bisa ngasi tau alasanya kenapa dia sampe suka sama cewek cerewet
kayak kamu.”

“Diem lo! Aku juga nggak tau kenapa setiap cowok yang aku tunjukin foto kamu mereka langsung mau gitu
aja. Padahal elo nggak cantik-cantik amat!” Ucap Dina tak mau kalah.

“Salah sendiri mereka mau sama aku!”

“Jahat banget lo yah jadi orang! Apa elo nggak mikirin gimana perasaan mereka ketika elo tolak gitu aja?”
Tanya Dina.

“Apa elo mikirin perasaan aku? Tiap elo nyindir aku dan maksa aku?” tapi Lila malah balik nanya.

Dina tak bisa menjawab dan maju untuk menampar Lila tapi segera ditarik oleh Arin.

“Satu lagi, kalau kamu nggak mau uang kamu terbuang cuma untuk njalanin rencana yang elo buat untuk
aku, mendingan elo nggak usah nyari temen kayak aku. Karena setiap persahabatan yang kita jalin itu

butuh pengorbanan.”

“Udah dong La! Ini kan bulan puasa. Nanti puasa kamu batal lho!” Lerai Zahra gemetar melihat raut muka
Lila yang sudah ingin memakan orang mentah-mentah.

“Bukan aku yang batal. Tapi dia!” Ucapnya sambil menunjuk ke arah Dina.

Dina yang semakin gusar membuat Arin kualahan.

Lila tersenyum menyindir dan segera melangkah pergi.

Zahra tak mampu menghalanginya.

“La!” Teriak Zahra mencoba menghentikan langkahnya.

“Lila!” Lila tetap melangkahkan kakinya.

Seharusnya bulan suci ini tidak ternoda oleh pertengkaran. Apalagi dengan sahabat sendiri.

Entah siapa yang harus disalahkan.

2 hari sudah Zahra tak melihat Lila keluar dari rumahnya. Ia semakin khawatir jika sesuatu terjadi pada diri sahabatnya.

Sms yang ia kirim tak pernah di balas. Telfon juga tak pernah diangkat.

Arin melakukan hal yang sama. Tapi percuma, Sms dan telfonnya tak pernah digubris.

Arin tak mau recana yang mereka gagal untuk yang kesepuluh kalinya. Ia memutuskan untuk pergi ke
rumah Dina bersama Zahra dan pasangan masing-masing termasuk Adi.

Dina kukuh pada pendiriannya. Ia tak mau mendengarkan semua nasihat yang mereka berikan.

Mau tak mau Zahra harus memberitahu mereka tentang apa yang terjadi pada Lila selama 3 tahun ini.

“Aku sangat yakin kalau Lila tuh lagi nunggu seseorang.” Yakin Zahra.

“Bisa jadi tuh! Kira-kira kamu tau nggak siapa seseorang itu?” Tanya Adit padanya.

“Aduh! Kalau itu aku nggak bisa yakin 100%!”

“50% juga nggak apa-apa kok!” Sahut Dina tiba-tiba.

Mereka terlihat senang dengan perubaha Dina.

“Yang pasti ada anak yang dulu sempet deket dengan dia. Terus kalo nggak salah, tuh anak diajak
bonyoknya ke Jakarta.” Terangnya ragu-ragu.

“Ngapain mereka pindah ke Jakarta? Jakarta kan panas? Mendingan di sini, udaranya sejuk. Malang gitu
lho!” Cletuk Andi.

“Itu dia yang aku nggak tahu. Tapi delu aku sempet ngambil beberapa kertas yang Lila masukin ke kotak
lalu menyimpannya di dahan pohon depan rumahnya itu.” Terang Zahra mencoba mengingat.

“Lalu apa isinya?” Lagi-lagi Dina mengajukan pertanyaan dan membuat mereka kembali semangat untuk
meanjutkan rencana.

Zahra melempar senyum pada Dina lalu kembali menerangka.

“Intinya tuh kenapa orang itu nggak juga balik. Padahal dia udah jajni kalau akan balik begitu permaian
gitarnya bagus.”

“Haah! Cuma pengen bisa maen gitar aja pake acara pindah ke Jakarta?” Tanya Arin penasaran.

“Nggak tau lagi deh Rin. Aku juga sempet ngeliat Lila maen gitar. Yah bisa dibilang lumayan sih. Dan lagu
yang ia nyanyiin temanya selalu sama.”

“Temanya apa?”

“Persahabatan dan seseorang yang telah ingkar. Di akhir lagu ia selalu menambahkan kata aku akan
selalu menunggumu.”

“Oooo. Jadi itu kenapa dia nggak mau pacaran? Dia emang anak yang hebat yah! Padahal udah jelas-jelas
orang itu nggak balik, tapi dia masih aja setia nunggu. Aduh! Aku ngerasa bersalah banget sama Lila.”
Sesal Dina dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Eh nggak boleh nangis. Ntar puasanya batal lho!” Hibur Adi sambil mengusap air mata yang perlahan menetes.

Dua hari ini ternyata Lila sakit.

Ia tak sempat melihat Hp nya.

Kini ia telahsembuh dan mengambil Hp yang ia letakkan di bawah topi hijau di lemarinta.

“Banyak banget sms yang masuk dan mised call. Siapa yah?” ucapnya lalu mulai memencet tuts-tuts yang tersedia.

“Ya ampun. Banyak banget sms dan telfon dari zahra N Arin.”

“Bales nggak yah?” Lanjutnya.

Ketika jari-jarinya akan beradu dengan tombol, terlihat nama Arin tertera di layar Hp.

Ia segera mengangkat.

“Untunglah kamu nggak papa La!” Ucap Arin begitu telfonnya dijawab.

Arin menyudahi setelah lam berbicara dan mencari tahu tentang cowok yang Lila mimpikan.

Mulanya Lila nggak mau, tapi setelah didesak beberapa kali, Lila nyerah dan mengatak bagaimana Cowok impiannya.

Arin segera memberi warning untuk berkumpul.

Mereka menyusun rencana cadangan jika rencana awal tidak berhasil

Hari ini adalah hari dimana mereka akan melaksanakan rencananya.

Hampir setiap malam mereka sholat Tahjjud dan Istikharah agar rencana mereka berhasil karena mereka yakin, sebesar apapun
usaha yang kita lakukan tak akan berhasil jika tak diimbangi dengan bersujud dan memohon pada-Nya.

Istikharah yang mereka lakukan ternyata membawa hasil. Mereka selalu meminta agar diberi petunjuk apakah cowok yang mereka pilih untuk Lila benar.
Wajah cowok itu selalu hadir dalam mimpi mereka. Tak terkecuali Adi, Adit dan Andi. Mereka sampai takut kalau cowok itu jodoh untuk mereka. Bukan untuk Lila.

“Eh, kenapa aku selalumimpiin cowok itu yah?” Tanya Andi pada mereka ketika berjalan menuju rukah Lila.

“Iya! Aku juga gitu.” Adi menambahi.

“Jangan-jangan kita jodoh sama dia?” Tebak Adit ketakutan.

Sontak mereka tertawa.

“Itu tandanya cowok yang kita pilih untuk Lila di ridhloi oleh Allah.” Ucap Zahra.

“Kalian tenang aja. Aku sama Dina juga mimpi kayak gitu kok.”

“Kalian kan cewek. Lha kita kan cowok! Masak kita jodohnya juga sama cowok?” Timpal Andi.

Lila benar-benar kaget begitu mendapati semua sahabatnya termasuk Dina sudah berda di depan mata.

“Surpraise!” Teriak mereka senang.

Dina segera memeluk erat.

Lila menyambut pelukan itu senang.

“La. Maafin aku yah! Aku bener-bener minta maaf. Aku emang salah” Ia terus mengucapkan kata-kata itu dengan tetap memeuknya.

“Udah Din! Aku ngerti kok! Aku juga minta maaf kalau selama ini aku nggak pernah mau ndengerin kata-kata kalian.”

Suasana berubah menjadi haru.

Terasa kehangatan yang menyergap.

Mereka sangat senang melihat dua sahabat ini kemali akur.

Setelah acara maaf-maafan selesai (padahal belum hari raya lho!, Arin mengajak Lila untuk ikut ke Sunan Ampel mumpung masih
pagi.

“Kamu udah nggak dapet kan?”

“Alhamdulillah udah nggak!”

“Jadi gimana?” Tanya Dina tak sabar.

“Apanya?” Tanya Lila pura-pura tak mengerti.

“Lila!” Teriak mereka semua.

“iya! Iya! Aku ikut!” Jawabnya tersenyum bahagia.

Meraka sangat bersyukur karena akhirnya Lila mau ikut dengan mereka.

“Tapi aku nggak ngerepotin kalian kan?” tanya Lila sebelum berangkat.

“Nggak kok!” Jawab mereka serentak.

Mereka sampai di tempat tepat pukul 4. Satu setengah jam lagi adzan maghrib berkumandang. Mereka manfaatkan waktu ini untuk
menjelajahi setiap gang yang dipenuhi berbagai macam dagangan dari makanan hingga aksesoris khas sunan ampel.

Kali ini Lila tak harus jalan sendiri, ada Dina, Arin dan Zahra yang jalan disampingnya. Sementara Adi, Adit dan Andi jalan
bersama mukhrimnya.

Tak terasa adzan maghrib berkumandang. Untung saja mereka telah memesan minuman terlebih dahulu, kalau telat sedikit saja,
mereka akan kehabisan.

“Kita lanjutin nyari tempat makan atau sholat dulu?” Tanya Adi pada yang lain.

“Makan dulu aja yah! laper nih.” Jawab Arin kalem.

“Kalau sholat aja dulu gimana?”

“Mendingan makan dulu. Kalau kita sholat dulu nanti nggak khusyu’ karena perut kita laper.” Lila sependapat dengan Arin.

“Gimana kalau kita contoh cara berbukanya Rasulullah?” Usul Dina.

“ Yang berbuka hanya dengan 3 buah biji kurma dan segelas air itu?” Tanya Lila.

“Apa abis itu kita makan 3 buah kurma kita nggak makan lagi? Bisa mati kelaperan aku.”

“Ribet yah kalau keluar sama cewek? Cerewet banget!” Timpal Andi bercanda.

“Jadi nggak kamu ada kita nih? Ya udah kita jalan sendiri aja. Ya nggak temen-temen!” Ancam Arin pada mereka.

Akhirnya, mereka setuju untuk sholat dahulu sebelum makan.

Sesampainya di Masjid Sunan Ampel. Mereka segera mengambil air wudlu.

Lila terdiam sejenak melihat sosok di sampingnya yang sedang melepas sepatu.

Hatinya bergetar. Entah apa yang terjadi.

Zahra yang telah melihatnya, berbalik lalu menghampirinya.

“Hey! Kok bengong sih! Kamu nggak sholat?”

“Eh Zahra! Iya ntar. Kamu duluan gih. Aku nyusul.”

Yawda, aku dulu yah! Tapi cepetan, biar nggak ketinggalan sholat berjamaah.”

“Ok!”

Sosok di sampingnya ternyata merasa kalau Lila sedang memperhatikannya.

Sejenak mereka saling berpandangan.

Tapi segera buyar ketika terdengar Iqomah.

Lila segera mengambil air wudhlu.

“Mana Lila?” Tanya Arin dan Dina pada Zahra.

“Nggak tau. Tadi dia bengong sendiri di depan. Trus aku ajakin wudlu tapi aku malah di suruh duluan.”

Lila menutup Shaf paling belakang.  Ia tak melihat sahabatnya.

“Mungkin mereka di Shof depan.” Pikirnya lalu membaca niat untuk sholat.

Setelah selesai sholat, ia menunngu sahabatnya di depan masjid.

Ia terlihat bingung.

Ia memperhatikan setiap orang yang baru turun dari masjid.

“Dimana dia?” Tanyanya lirih.

“Siapa?” Suara dari belakang mengagetkannya.

“Eh kalian. Mana Adit dan yang lain?”

“Masih wiridan tuh di dalam.” Jawab Dina sembari menunjuk ke dalam.

Lila diam. Ia memperhatikan sosok yang duduk di samping tiang dalam masjid.

“Woi! Ngelamun yah?” Arin menebak.

“Tau nih! Dari tadi aku perhatian melamun terus.”

Mereka bermalam di Sunan Ampel gar bisa khusyuk dalam sholat. Dan konon katanya, jika kita berdoa di tempat itu, doa kita
cepat terkabul.

Lagi-lagi hati Lila bergetar begitu sosok berbaju hijau lewat dihadapannya.

Ia tak berani bertegur sapa dengan sosok itu.

Mereka melaksanakan sahur bersama para pengunjung yang lainnya di halaman masjid Sunan Ampel.

Setelah selesai sahur, mereka melanjutkan dengan sholat malam dan mengaji hingga adzan subuh berkumandang.

Pagi kembali datang, mereka segera bersiap untuk pulang.

Atas permintaan Lila, mereka akhirnya memilih untuk naik kereta jurusan Surabaya-Malang.

Entah mengapa dia begitu ingin naik kereta.
Setelah Shalat Istkharah tadi malam, ia seperti mendapatkan sesuatu yang selama ini diinginkan dan dinantinya.

Petunjuk yang Allah berikan lewat mimpinya itu benar, hatinya kembali bergetar melihat sosok yang sedang mengantre di loket.

“Kenapa aku merasakan sesuatu yang tak biasanya setiap melihat orang itu.” Ucapnya dalam hati.

Semua duduk dengan mukhrimnya masing-masing.

“Tumben kalian nggak duduk sama pasangan kalian?”

“Kita emang sengaja nggak berduaan soalnya kita nggak enak sama kamu. “

“Kenapa mesti nggak enak?”

Kereta telah berhenti setelah beberapa jam. Mereka tak lagi melanjutkan pembicaran.

Sepulangnya dari Sunan Ampel, sosok itu selalu menggangu dirinya.

Ia tak berani menceritakan hal ini pada sahabatnya.

Selesai melaksanakan shalat tarawih ia duduk di bawah pohon dan termenung.

“Selepas kau pergi tinggallah disini ku sendiri” Seseorang melantunkan lagu itu.

Lila menoleh ke asal suara.

Suara itu terasa tak asing lagi ditelinganya.

Sejenak ia mengingat kenangan masa lalu, tapi segera dihamburkan oleh suara yang semakin keras.

Dirumahnya tak ada siapapun.

“Aduh nggak ada siapa-siapa  lagi.” Rintihnya dalam hati.

“Mana aku nggak punya uang kecil lagi.” Lanjutnya.

“Tuh pengamen emang nggak tau diri banget.”

Kini ia terpaksa beranjak dari duduknya dan menghampiri pengamen itu seraya menyodorkan selembar uang kertas.

Hatinya kembali bergetar setelah melihat sosok yang sedang ia pikirkan.

“Mau requst lagu mbak?” Tanya pembawa gitar.

“Oh nggak mas. Makasih.”

“Tapi uangnya ini kok gede banget?”

“Emangnya segede apa sih?”

Mereka berdua saling lempar senyum.

Hampir setiap setelah sholat tarawih pengamen itu datang.

Bahkan ia pernah melihat pengamen itu melaksanakan sholat tarawih di mushollla yang tak jauh dari rumahnya.

“Request lagu apa mbak?”

Itulah pertanyaan yang selalu mereka ucapkan.

Beberapa hari berikutnya, sosok itu mengajak kenalan.

“Boleh kenalan nggak?”’

Ia hanya tersenyum.

“Namaku Andre.” Ucapnya seraya menyodorkan tangan.

Lila diam, keringat dingin keluar begitu deras.

“Andre?” Tanyanya dalam hati.

“Aku Lila.”

Mereka semakin dekat

Lila terlihat sangat klop dengan sosok itu.

Esok seluruh umat islam khususnya di Indonesia akan merayakan hari Raya Idul Fitri.

Gemuruh takbir terdengar. Bersahutan menyambut hari kemenangan.

Seperti suatu kewajiban yang harus dilakukan umat islam khususnya anak-anak kecil, mereka menyalakan obor lalu berjalan
mengelilingi desa.

“La! Ntar aku ma yang laen mau keliling di desa kamu aja ya!”

“Yang bener? Wah pasti seru nih Rin!”

“Tunggu kita ntar abis sholat isya’”

“Eh tunggu! Kalian ntar ngumpulnya di mana? Rumahku atau rumahya zahra?”

“Emmm!Rumah kamu aja deh!”

Terlihat jarum jam berada pada angka 7.

mereka telah datang.

Pohon besar menjadi tempat persinggahan.

Di bawah pohon itu mereka menyaksikan bagaimana meriahnya suasana malam takbiran.

Sepanjang jalan terlihat terang.

Tak terasa malam mulai larut. Tapi kumandang takbir tetap terdengar.

“La!”

“Apa Rin?”

“Kita mau ngasi kamu sesuatu. Tapi kamu harus mau nerima.”

“Emangnya mau ngasi apa? Perasaan hari ini bukan ulang tahunku de!”

“Emm.. kamu balik badan dulu gih!”

“Nggak mau!”

“Ayolah La! Plis!” Pinta yang lain.

Ia berbalik dan menutup mata sesuai perintah mereka.

“Sekarang berbalik tapi jangan buka mata kamu dulu.”

“Buka mata kamu!”

Ia tersenyum kecut.

“La! Kenalin ni…”

“Jadi ini yang mau kalian kasi ke aku?” Tanyanya sambil tertawa.

Mereka bingung.

“Kamu kenapa La? Perasaan ga ada yang lucu deh!” Tanya Zahra heran.

“Kita udah saling kenal.” Andre membuka mulut.

“Haaaahh!”

“Iya. Kita emang uda saling kenal.”

“Kok bisa?” Tanya Andi dan Adi.

“Buktinya bisa.” Jawabnya kalem.

“Kalian kenal dari mana?”

“Ada deh” Jawab Lila dan Andri serentak.

“Dan satu lagi. Kita uda jadian!”

“Whaaattt!” mereka semakin terkejut.

“Kapan?”

“Ada deh!”

“Aku tau apa yang kalian lakukan selama ini. Dan terimaksih telah mempertemukan aku dengan orang yang selama ini aku cari.”
Ucapnya meraih tangan cowok disampingnya.

Mereka terlihat tak percaya dengan apa yang sedang mereka saksikan dengan mata telanjang.

“Dia adalah sahabat kecilku yang menghilang.” Lanjutnya.

“Andre. Adalah sosok yang selam ini aku cari.”

“Dia kan seorang pengamen? Beda banget dengan apa diceritain sama Zahra?” Tanya Arin masih tak percaya.

“Aku memang sengaja mengamen dari rumah ke rumah agar aku bisa menemukan orang yang selama ini aku cari. Dan usahaku
ternyata membuahkan hasil.

“Jadi sekarang kalian udah pacaran?”

Di bawah pohon besar itu mereka berpisah, dan di bawah pohon besar itu pula mereka bersatu kembali.

Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini Lila menemukan orang yang ia cari selama ini. Penantinnya  membeikan buah yang amat
sangat manis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: