Baru Kali Ini Ku Lihat Dia Marah


Oleh : Daris Ilma

Ketika jarum jam telah berda pada pukul 7:00, para siswa-siswi segera memasuki rangan masing-masing. Jam pertama adalah waktunya pelajaran Kimia yang  di ajar oleh Pak Mukhid. Pak Mukhid adalah guru yang kocak. Ia sealu memberi bumbu lelucon di setiap materiyang ia ajarkan agar suasana tidak terlalu tegang. Sayangnya, ada diantara kami yang memanfaatkan situasi seperti ini dengan bercanda yang terlalu.
“Anak-anak coba kalian buka Lembar Kerja Siswa (LKS) halaman 19.” Perintahnya selesai membaca doa.
“Bagaimana puasanya anak-anak? Apa sudah ada yang bolong?” tanyanya masih dengan gaya yang khas. Senyum mencuat dari bibirnya ditambah dengan lesung pipinya membuat kami senang padanya. Rambutnya yang keriting bisa jadi tempat singgah yang nyaman bagi burung. he…he… bercanda lho Pak!

Aku dan teman-teman sepakat kalau dia mirip dengan Ridho Rhoma. Anaknya raja dangdut Rhoma Irama itu lho! Sayangnya, Pak Mukhid tak seputih Ridho Rhoma. Warna kulitnya hitam tapi manis.
Mataku menyapu seluruh ruangan. Sosok yang ku cari ternyata tak ada dalam kelas.
“Seha. Mana Ais?” Tanyaku pada Seha yang satu bangku dengan Ais.
“Aku nggak tahu. Mungkin anaknya nggak masuk.”
“Kemana?”
“Masih di pondok mungkin.”
“Ya udah makasih ya!”
Aku kembali fokus pada materi yang sedang diterangkan.
Rupanya aku tertinggal. Aku segera melirik halaman yang sedang dibahas.
Papan tulis telah menjadi sasaran tangannya yang cekatan dalam menuliskan berbagai rumus.
“Mana yang lain?” Ucap Pak Mukhid disela-sela pembahasan materi.
“Nggak masuk mungkin pak!” Jawabku lirih.
“Kalian ini bagaimana. Bulan puasa kok malah nggak ada yang masuk.”
“Lemes pak!”
“Capek pak!”
“Ngantuk pak!”
“Alasan saja. Bilang saja kalau nggak mau ketemu saya. Takut puasanya batal karena melihat ketampanan saya.”
“Huuuuu!” Teriak kami pada pak guru yang narsis plus PD(Pedot Del) ini.
“Lho kan benar.!”
“Huuu.”
“Puasa itu anak-anak jangan dijadikan halangan untuk melakukan aktifitas. Segala sesuatu yang kita lakukan pada bulan puasa itu akan mendapatkan pahala dari-Nya. Tapi satu yang paling disenangi oleh orang yang sedang berpuasa terutama yang seumuran kalian ini adalah tidur.”
“Lho pak. Katanya Rasulullah tidurnya orang puasa itu kan termasuk ibadah!”
“Tapi kalau seharian penuh kalian habiskan untuk tidur ya bisa sakit semua badan.”
“Kan enak pak. Energi kita nggak habis.”
“Anak-anak! Tidur itu juga membutuhkan energi lho.”
Tiba-tiba,
“Assalamualaikum!”
“Waalaikumsalam!” Jawab Pak Mukhid
“Kenapa telat Ais?”
“Ketiduran pak!” Cletuk salah satu temanku.
“Nggak pak! Sekarangkan waktunya saya piket di pondok. Jadi agak telat.” Karena Ais termasuk urid yang pandai, jadi Pak Mukhid tidak mempermasalahkan hal itu dan menyuruhnya untuk duduk.
Pelajaran kembali dimulai.
“Semua sudah mengerti?”
“Iya pak!” Jawab kami serentak.
“Sekarang coba kalian kerjakan latihan soal halaman 21.” Perintahnya lalu kembali duduk.
Sejenak suasana hening.
Hari ini memang sangat sedikit sekali yang masuk sekolah. Hanya 20 anak yang masuk dari jumlah keseluruhan yaitu 40 anak.
Semua terlihat serius mengerjakan soal yang diberikan. Tapi dari arah pojok terdengar tawa yang ditahan. Aku tidak terlalu peduli.
Aku sudah tidak sabar untuk mengatakan sesuatu pada Ais.
“Ais, sory! Hari kamis kemaren aku nggak bisa maen ke rumahnya Dewi.” Bisikku pada Ais yang duduk sederet denganku.
“Memangnya kamu mau kemana?”
“Nggak kemana-mana sih!”
“Lah terus?”
“Hari kamis itu sudah mejadi hari paten waktunya aku nyuci baju!”
“o gitu. Ya sudah. Nggak apa-apa kok Ris!”
“Memangnya ada acara apa sih?” Tanyaku berbisik, takut kalau terdengar Pak Mukhid.
“Nggak ada acara apa-apa kok ris. Aku cuma pingin ngumpul-ngumpul saja.”
“Sekali lagi maaf yah Ais!”
“Iya. Nggak apa-apa kok Daris.”
Aku kembali menghadap buku dan lembaran kertas yang sudah menanti untuk ku kerjakan.
Sedikit demi sedikit aku mulai menyelesaikan soal-saol yang membutuhkan energi untuk berfikir ini dan yang pastinya akan membuat aku lapar. Ups! Nggak boleh! Inikan bulan puasa.
Hari ini Dewi, Ririn dan myuzel tidak puasa karena berhalangan. Di deretanku kini tinggal aku dan zahra yang masih menunaikan ibadah puasa.
“Daris! Permennya enak banget. Rasa durian keukaan kamu.” Iming Dewi sembari menghembuskan nafasnya di mukaku.
“Setan!”
“Ha…ha…ha…” Tawanya puas.
“Pak!”
“Ada apa?”
“Katanya kalau bulan puasa itukan setan-setan di bum pada diikat semua. Ini tinggal satu kok masih keliaran.” Ucapku sambil menunjuk ke arah Dewi.
Sontak semua tertawa.
“Duasar!”
“Aw! Sakit wi!”
Karena tidak terima ia menjitak kepalaku dan menarik kerudungku pelan.
“Kalau yang ini mungkin terlepas dan masih dalam Wanted para malaikat.”
Semua kembali tertawa.
“Sudah. Jangan bercanda terus. Apa kalian sudah selesai mengerjakan soalnya?”
“Belum pak!”
Semua kembali pada pekerjaannya, tapi aku dan Dewi masih cengingisan.
“Kamu!Maju ke depan!” Sentak Pak Mukhid pada temanku yang duduk di pojok.
Tapi mereka tidak mau maju. Malah cengingisan ditempat.
“Malah ketawa! Cepet maju ke depan!”
Aku sangat terkejut melihat Pak Mukhid yang terlihat begitu marah. Sebelumnya ia tak pernah marah seperti ini.
Apa yang telah mereka lakukan hingga Pak Mukhid menjadi marah hebat seperti ini?
Aku tak berani menoleh sedikitpun walaupun bukan aku yang ia maksud.
Akhirnya Mawaddah mau maju ke depan.
“Dari pertama  masuk saya perhatikan kamu asik ngobrol sendiri! Apa kamu sudah mengerti apa yang sekarang ini kita bahas?”
“Sudah pak!” Jawabnya dengan kepala tertunduk.
“Kalau begitu coba kerjakan halaman 21!.”
Ia tak segera beralih tapi hanya diam ditempat.
“Katanya bisa? Coba sekarang kerjakan!”
Perlahan ia mendekati papan tulis dan kembali diam.
“Kamu bisa atau tudak?”
Ia hanya diam.
“Mangkanya kalautidak bisa itu diperhatikan! Jangan ngobrol sendiri!”
“Kamu puasa ?” Lanjutnya.
“Puasalah pak! Masak nggak puasa?”
“Diam di situ!”
Siapa yang bisa mengerjakan soal nomer 1?”
“Saya pak!” Myuze mengacugkan jarinya.
“Maju.”
Myuzel mulai menjelajahi papan. Rumus dan jawaba yang ia tulit membuat kepalaku pusing. Rumit banget.
Kini aku tahu betapa pentingnya mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh Bapak atau Ibu guru. Celometan yang kita rasa tidak terlalu penting sebaiknya jangan dilakukan karena esok kita yang akan rugi sendiri. Mungkin bukan sekarang dan entah kapan itu yang pasti kita akan menyesal jika sedetik saja kita mengabaikan apa yang disampaikan oleh Bapak atau Ibu guru pada kita.
Myuzel telah selesai mengerjakan soal. Kini ia kembali duduk.
Kemarahan Pak Mukhid mulai mereda. Terlihat dengan senyum yang mulai mengambang dari bibirnya.
“Orang puasa itu anak-anak dilarang marah karena akan mengurangi pahala puasa kita.” Ujarnya sambil tertawa.
“Lha kenapa anda tadi marah pak?”
“Itu tadi hanya gertakan untuk kalian agar tidak seenaknya bertingkahlaku pada guru, siapapun itu.” Wajahnya kembali terlihat serius.
“Lho iya anak-anak. Saya ini tidak bohong. Tipe seorang guru itu berbeda-beda. Ada yang suka bercanda seperti saya.”
“Huuuuuu”
“Ada yang nggak suka bercanda. Jadi suasana kelas akan ikut tegang. Saya suka dengan suasana santai tapi serius. Ya seperti sekarang ini.”
“Ya sudah. Kamu duduk. Tapi ingat! Jangan ulangi lagi sikap kamu selama pelajaran berlangsung.”
Mawaddah kembali ke tempat duduknya didiringi tatapan dari kami. Termasuk aku.
Dua jam telah berlangsung.
Teeettttt
Bel pergantian jam pelajaran telah berdering.
“Sampai sini saja pertemuan kita. Dan sisa soal yang belum dibahas tadi jadi PR buat kalian.”
“Assalamualaikum!”
“Waalaikumsalam!”
Yang pasti kita harus menghormati guru bagaimanapun itu keadaannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: